Umum

Tender Sirkuit Gagal. Formula E Jakarta, Formula Error?.

Eko Wibowo 4 months ago 0.0

Senyum menanggung luka. Sepertinya itu yang sedang ditampilkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat mengomentari aksi Ketum PSI Giring Ganesha yang sempat mendatangi dan mengkritik lokasi Formula E banyak kambing berkeliaran.

Apa katanya?

Dalam podcast yang ditayangkan YouTube Total Politik, Anies justru menyoroti waktu Giring yang longgar sehingga bisa ke sana.

"Ya kasihan juga ya, waktunya longgar betul, kalau kita-kita yang agak sibuk ini nggak cukup waktu untuk keliling-keliling, nggak perlu," kata Anies Baswedan dengan mimik muka khasnya, Jumat (21/1/2022)

**

Sebenarnya hanya balapan, iya balapan biasa. Bahkan balapan yang belum atau tidak populer, terutama bila dibandingkan dengan ajang otomotif kelas dunia lainnya seperti MotoGP, F1, atau reli Paris-Dakar.

Tapi di Indonesia, atau ketika Jakarta mengajukan diri sebagai salah satu kota penyelenggara, balapan khusus mobil listrik ini terkesan begitu populer. Walau seperti biasa, ada aroma politis-politisnya.

Formula E di Jakarta menjadi sedemikian menarik bagi masyarakat Indonesia karena melibatkan Anies Baswedan. Betul, Gubernur DKI Jakarta itu memang menjadi salah satu figur yang membuat Formula E menjadi sedemikian menarik.

Menarik karena Anies Baswedan juga menarik. Seperti diketahui, Gubernur DKI Jakarta ini selalu ditunggu-tunggu. Ditunggu prestasinya sekaligus ditunggu kegagalannya.

Sedari awal, Anies sepertinya memang ingin menjadikan Formula E sebagai salah satu even demi naik menyeret naik popularitasnya, sukur-sukur ya elektabilitasnya. Anies terlihat begitu ambisius untuk terlihat terlibat dan sukses di segala bidang, apalagi ini berkas internasional.

Makanya Anies begitu bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan agar balapan ini bisa terselenggara di Jakarta. Biar dikata tidak masuk dalam program Pemprov DKI Jakarta maupun termasuk dalam janji kampanyenya, biarpun juga harus bayar lebih mahal, pokoknya yang penting Jakarta masuk dalam kalender Formula E.

Anies berhasil, sedianya sih di 2020 lalu. Tapi diundur ke 2022 nanti karena dua tahun belakangan terhalang oleh pandemi.

Semenjak direncanakan hingga kepastian akan digelar di Jakarta, pro-kontra memang menyertai proses Formula E ini. Selain soal biaya yang sedemikian besarnya, lokasi sirkuit juga tak kalah hebohnya.

Pertama direncanakan di area Monas. Bahkan pepohonan berharga di tempat rencana sirkuit sudah terlanjur ditebang. Gagal, karena Monas terlalu dekat ke Istana Presiden.

Pada akhirnya ditetapkan Formula E Jakarta akan digelar di kawasan Ancol. Tapi semakin mendekat ke hari H, tender pembangunan sirkuitpun malah gagal. Selain persiapan sirkuit, pembiayaan pun belum ada kejelasan.

PT Jakarta Propertindo selaku pihak yang ditunjuk Gubernur Anies Baswedan sebagai pelaksana masih belum menemukan titik terang segi pembiayaan. Mengharapkan dana negara jelas sudah tidak bisa setelah DPRD DKI Jakarta memutuskan tidak akan mengucurkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk perhelatan Formula E itu.

Mengharapkan sponsorship juga agak meragukan. Seperti sudah disinggung di atas, balapan Formula E ini bukanlah ajang berkelas atas. Pasaran saja belum, apalagi eksklusif. Even otomotif ini masih dalam tahap mencari nama dan perkembangannya juga tidak bisa dikatakan bagus. Beberapa pabrikan diketahui malah mundur dari balapan ini. Jadi ya wajar kalau minat sponsor tidak bisa terlalu diharapkan, apalagi kalau ada anggapan ajang ini memang kental aroma politisnya.

Lalu bagaimana efek Formula E ini ke Anies Baswedan nanti?

Sepertinya akan lebih berefek buruk dibanding imbas positif bagi Anies Baswedan, baik sukses maupun gagal penyelenggaraannya. Bila gagal, sudah pasti Anies akan dicibir di sana sini. Walau alasan disampaikan dengan sedemikian tertatanya, tetap saja kegagalan itu akan semakin menambah merahnya rapor pemerintahannya di Jakarta.

Nah bila sukses, Anies tentu saja berhak menari-nari senyam-senyum bangga. Bisa jadi, sebelum diserahkan tropi juarapun akan diciumnya seperti apa yang dilakukannya pada obor saat penutupan Asian Games 2018 lalu.

Tapi Anies dipastikan tidak akan bisa memonopoli keberhasilan itu sendiri. Toh pada kenyataannya, Anies harus digendong oleh Bambang Soesatyo dan Ahmad Syahroni demi bisa menggelar balapan itu.

Kemudian bila melihat perkembangannya hingga saat ini, sepertinya pemerintah pusat harus turun tangan. Dan itu jelas, akan semakin menggerogoti kans klaim keberhasilan yang biasa Anies lakukan.

Jadi jelas Formula E akan menjadi formula yang membuat Anies error kedepannya. Rumus kemandegan bagi karir politiknya selanjutnya. Menambah populer iya, tapi tidak dengan elektabilitasnya.

https://megapolitan.kompas.com/read/2022/01/25/07150621/129-hari-jelang-formula-e-jakarta-tender-sirkuit-gagal-sponsor-belum-ada?page=all