Umum

Temuan Baru Tragedi Truk Maut di Balikpapan: SIM Palsu hingga Modifikasi Kendaraan.

Widodo SP 4 months ago 0.0

Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan sebuah truk di simpang Muara Rapak, Balikpapan, Kalimantan TImur, Jumat (21/1/2022), rupanya menyisakan cerita yang semakin membuat kita geleng-geleng kepala, khususnya adanya temuan baru yang seakan membawa sopir truk menunggu waktu saja sebelum mengalami kecelakaan.

Review sedikit buat menyegarkan ingatan, kecelakaan yang terjadi pagi hari di simpang dengan jalanan menurun itu sedikitnya menewaskan 4 orang, belum termasuk korban luka dan kerusakan kendaraan dari berbagai jenis, yang diseruduk oleh truk yang mendadak mengalami rem blong di lokasi kejadian.

Menurut pemberitaan laman Kompas.com, pihak kepolisian sudah mengungkap fakta baru dari peristiwa kecelakaan maut itu, yang membuka peluang adanya penetapan tersangka baru selain sopir truk yang bernasib sial itu, antara lain:

Pertama, truk dimodifikasi sehingga menyebabkan overload saat memuat beban karena adanya perubahan dimensi yang memperbesar kapasitas muatan yang bisa diangkut truk. Perubahan dimensi

juga nggak tanggung-tanggung, dari ukuran asli 7,5 meter ditambah 5 meter sehingga panjang truk menjadi 12,5 meter.

Silakan dikira sendiri dampak dari perubahan panjang truk, yang pasti berpengaruh pada daya muat jika dikalikan dengan lebar dan tinggi kendaraan berat itu.

Kedua, modifikasi juga terkait bentuk kendaraan, yang semula hanya mobil bak terbuka biasa, lantas diubah supaya bisa membawa kontainer peti kemas. Wah, pantesan saja kelebihan kapasitas muatan, karena tampilan kendaraan juga diubah, termasuk sumbu (as) dari semula dua lantas menjadi tiga, yang hanya diimbangi dengan menambah jumlah roda.

Temuan ketiga juga menunjukkan pelanggaran khas yang kerap terjadi di negeri kita, yakni pemalsuan SIM milik pengemudi, dari yang seharusnya SIM A menjadi B2 Umum. Artinya, sopir juga terancam kena pasal pemalsuan SIM yang bisa memperberat masa hukumannya.


Nah, sembari menunggu pemberitaan lanjutan setelah pihak kepolisian bekerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan untuk mengonfirmasi perihal uji kelayakan kendaraan (KIR) truk itu ... sejak awal saya memang menduga ada yang tidak beres dengan truk tersebut.

Meski faktor jalan menurun dan rem blong juga menjadi penyebab kecelakaan yang tak bisa dielakkan, tetapi seperti saya sebut di awal tulisan tadi, adanya pelanggaran substansial pada kendaraan rasanya memang hanya perlu menunggu waktu sebelum truk kena celaka.

Selain kecelakaan yang akhirnya terjadi pada Jumat pagi sekitar pukul 6 waktu setempat itu, bayangan ngeri juga melintas di benak saya kalau misalnya truk mengalami patah sumbu (as) lantas melaju tak terkendali diikuti rem blong ... atau truk mendadak miring saat menikung karena kelebihan beban, lantas ambruk dan menimpa pengguna jalan lain, apa nggak semakin ngeri itu?

Pengakuan pemilik truk bahwa kondisi kendaraan laik jalan bagi saya terkesan hanya lip service sih, kecuali dia benar-benar nggak paham kalau truk pembawa sial yang dimaksud adalah hasil modifikasi.

Meski rasanya janggal juga, karena biasanya taktik perusahaan di banyak tempat, tak jarang berusaha menghemat dengan cara apa pun, bila perlu mengubah spesifikasi mobil tanpa ketahuan petugas kecuali saat ada razia atau terjadi kecelakaan yang memerlukan investigasi dari petugas.


Pada bagian ini, terkadang saya kasihan dengan para sopir truk karena mereka "hanya menjalankan tugas" dengan merisikokan diri selama dalam perjalanan. Bicara soal beginian, saya kerap melihat truk-truk kelebihan muatan, berjalan dengan kondisi miring, atau seperti dipaksa jalan dengan kondisi armada babak belur.

Kalau cuma as patah atau mogok sih masih mendingan ya, karena saya sering melihat peristiwa begini. Bayangkan kalau truk sampai miring, ambruk, dan menimpa pengguna jalan? Bagaimana dengan rem blong, lalu truk menggasak apa saja yang ada di depannya? Ironisnya lagi, saya ragu apakah para sopir mendapat bayaran sepadan dengan semua risiko itu, atau mereka jangan-jangan bekerja dengan terpaksa ... karena kalau menolak, masih banyak sopir lain bisa menempati posisi itu. Waduuh...!

Jadi, saya mendukung polisi menelisik lebih jauh melihat temuan baru yang terkesan ada pelanggaran sistematis dan terencana itu, sampai ditemukan tersangka baru yang selama ini hanya berada "di balik layar" dan tega membiarkan sopirnya menempuh bahaya dengan membawa armada yang rentan kena celaka.

Bagaimana menurut Anda? Perlukah tragedi ini dijadikan momentum pengecekan menyeluruh dari truk-truk besar yang selama ini melintasi jalanan kota Balikpapan?

Begitulah kura-kura...


Sumber berita:

https://regional.kompas.com/read/2022/01/26/054700578/ungkap-fakta-baru-kecelakaan-maut-di-rapak-balikpapan-polda-kaltim-?page=all#page2