Umum

Sekelas Profesor Kok Unggahannya Sekedar Bercanda, Memangnya Penganiayaan Itu Hiburan?.

Bamswongsokarto 5 months ago 757.0

Belum juga selesai ramainya perbincangan kasus gelar profesor yang ternyata “abal-abal” yang didapat MU dari universitasnya sendiri, dan yang ternyata tidak tercatat dengan sah di Kementerian Pendidikan. Muncul lagi kasus baru, kali ini bukan profesor abal-abal, tetapi sesorang akademisi berkelas profesor (sebut saja profesor KW) yang tidak mampu menjaga marwah keprofesorannya, dan yang justru menguak jati diri, siapa dia sesungguhnya. Profesor yang justru jatuh harga diri dan nama baiknya, karena konten nyinyiran atas penganiayaan AA yang dilakukan para begundal kadrun, yang tentunya berdampak pada berkurangnya kepercayaan masyarakat dan tentu saja para mahasiswa terhadap dirinya. (Penulis sengaja tidak mencantumkan tempat profesor berhati kejam ini mengajar, karena penulis tidak rela juga institusi ini tercemari).

Bagi para mahasiswa yang bernalar benar secara logika keumuman, tentunya akan berpikir, “Cara profesorku dalam menyikapi satu kejadian kok berdasar kebencian dan bernuansa provokasi serta ancaman ya?

Dan tidak ada salahnya para mahasiswa yang diajarnya itu mengkritisi “nyinyiran” sang profesor, demi kebaikan nama besar yang disandang institusi tempat profesor yang suka "menari di atas tindak aniaya" ini mengajar.

Karena bagaimanapun juga imbas dari perbuatan profesor yang kejam hati dan penuh kebencian ini, sedikit banyak mencoreng nama besar Universitas-nya.

Dengan adanya peristiwa pengeroyokan Ade Armando, terbaca sekali profesor ini seolah merayakan dan tampak senang sekali dengan peristiwa itu.

Bukannya memberikan tanggapan yang adem dan mengarah pada kedamaian bangsa, tetapi justru mengarahkan pada perpecahan anak bangsa. Nuansa ancaman pun kental terbaca dari unggahannya.

Sekelas profesor yang bernalar benar tentu akan dengan sangat bijaksana menyikapi sebuah peristiwa, apalagi situasi perpolitikan Indonesia akhir-akhir ini jelas-jelas menciptakan adanya kubu-kubu yang berbeda pandangan.

Seorang profesor seharusnya memiliki tanggung jawab besar terhadap terciptanya rasa damai di tengah masyarakat, melalui ilmu pengetahuan yang diajarkan pada mahasiswanya.

Jadi jangan panik dan ngeles bahwa unggahannya itu sekedar bercanda /guyonan / bergurau.

Aneh juga ya profesor zaman sekarang, situasi seperti itu dianggapnya bercanda dan dipakai sebagai guyonan, lantas menganggap unggahannya itu bisa selesai dengan minta maaf.

Kok bisa-bisanya ya sekelas profesor hanya memberikan klarifikasi “sekedar bercanda-guyonan-bergurau” tanpa memberikan alasan yang masuk akal dapat diterima semua pihak. Jangan-jangan pekerjaannya dalam mengajar dianggapnya guyon juga? Gimana ini Pak Rektor?

Seperti diberitakan, sang profesor mengunggah foto kolase yang terdiri dari beberapa influencer pendukung Presiden Jokowi. Mulai dari Denny Siregar, Abu Janda, Dewi Tandjung hingga Ade Armando yang digaris silang merah.

Melalui keterangan unggahannya, dia menyebut bahwa satu persatu dari para influencer itu sedang “dicicil” massa. Pemahaman kalimat ini adalah masih akan ada yang lain, begitu kira-kira artinya. Juga unggahan-unggahan lain yang jelas-jelas menunjukkan dirinya senang atas peristiwa itu.

Pembaca bisa juga kok melihat unggahan-unggahan di facebook profesor KW, barangkali bisa menemukan sendiri hal-hal aneh dari sosok sang profesor ini. Boleh juga membuka media sosial istri sang profesor, akan tampak disitu siapa dan bagaimana sesungguhnya profesor dan istrinya ini. Tapi mungkin saja sudah banyak yang dihapus, untuk menghilangkan jejak.

Silakan dirasakan sendiri bagaimana postingan profesor ini sama sekali tidak menunjukkan kelasnya sebagai seorang mahaguru berilmu tinggi. Postingan yang penuh kebencian, tanpa ada rasa kemanusiaan, jauh dari rasa empati sesama dosen.

Dan yang sangat tidak bisa diterima siapapun berdasar situasi dan kondisi saat peristiwa penganiayaan AA, unggahan KW yang kemudian viral ini mungkin dianggapnya sebagai hiburan buat dirinya, karena katanya hanya bercanda. Payaah ah..profesor KW ini.

Siapapun pasti mengetahui bagaimana sebutan “profesor” yang melekat pada diri seseorang itu menandai tingginya profesionalitas di bidang ilmu pengetahuan tertentu, dan yang secara otomatis menempatkan seseorang itu ke dalam golongan “pemikir” tingkat tinggi.

Dalam dunia pendidikan, sekelas “profesor” itu adalah mahaguru dengan tingkatan ilmu maha tinggi. Sebutan “profesor” tentunya bukan hanya simbol kepakaran, tetapi disertai juga dengan kematangan berperilaku, berpikir, dan berbicara.

Dan tentunya bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya, karena berbagai persyaratan keilmuan yang harus dipenuhinya.

Cerminan kematangan jiwa dalam berpikir, berbicara, berperilku itulah yang mau tidak mau memang melekat dan harus ada dalam diri sorang profesor.

Penulis jadi ingat, bagaimana bangganya dulu menjadi seorang mahasiswa yang salah satu mata kuliahnya diajar oleh seorang profesor. Ada kepuasan bathin tersendiri yang akhirnya memicu munculnya semangat untuk lulus mata kuliah yang diajarnya.

Tentunya saja profesor yang mengajar penulis itu seorang yang berwawasan luas, mengedepankan persatuan, mengutamakan kedamaian, dan yang pasti berilmu tinggi di bidangnya. Bukan profesor yang “gelagepan’ kaya orang mau tenggelam, saat ditanya alasan mengunggah konten di media sosial.

Salam dan Rahayu

Bamswongsokarto

Sumber Sumber