Umum

Menantikan Kedatangan "Polisi India" Jemput Edy Mulyadi.

Panjath H. 4 months ago 1.5k

Penggemar film-film India zaman doeloe, pasti ingat ending (akhir) dari cerita yang diangkat ke layar lebar itu. Di film-film action misalnya, cerita berkutat pada pertarungan seorang pembela kebenaran (protagonis) dengan penjahat (antagonis).

Dahoeloe kala, aktor idaman adalah Amitabacchan. Setiap filmnya diputar di bioskop, penulis cs selalu berusaha untuk menonton. Di akhir film, Amitabacchan yang kerap memerankan tokoh bernama Vijaj, bertarung sengit dengan penjahat utama.

Setelah penjahatnya berhasil ditaklukkan Vijaj meski dengan susah payah, babak belur dan hampir mati, barulah sepasukan polisi datang berhamburan, diiringi bunyi sirene mobil yang meraung-raung, meringkus si penjahat.

Adegan ini, membuat seisi bioskop kampung itu bergemuruh oleh tepuk tangan para penonton. Semua orang bersukacita dan bersyukur sebab penjahat yang dibenci di sepanjang film itu akhirnya ditangkap polisi.

Tapi penulis tidak tahu lagi seperti apa film-film India terkini, apakah masih sama alur ceritanya? Yang pasti, sekarang, jika mengenang kembali film-film itu, kita selalu tersenyum geli. Sebab tidak seharusnya penonton memberikan applaus meriah bagi polisi yang praktis tidak berbuat apa-apa, yang selalu terlambat bertindak.

Dalam konteks negeri kita, hal semacam itu pula salah satu penyebab sehingga stabilitas keamanan sering tidak stabil. Biangnya adalah kadrun yang selalu berulah, menjajakan agama sembari melakukan berbagai hal yang menyimpang dari ajaran agama.

Kaum kadrun itu kerjanya menyebar hoaks, fitnah, caci maki, sumpah serapah, kebohongan untuk memprovokasi masyarakat. Supaya timbul gesekan, pertikaian, saling curiga di kalangan masyarakat.

Contoh terbaru ketika beredar isu atau selebaran bahwa oknum penceramah agama yang dikenal luas sebagai biang provokasi, akan mengisi acara keagamaan di lingkungan TNI AD. Hal ini langsung dibantah oleh institusi yang bersangkutan. Sebab memang tidak masuk akal.

Tapi semua orang paham bahwa itu memang disengaja oleh kaum kadrun untuk menciptakan kegaduhan dan kericuhan. Kadrun itu identik dengan PKI yang gemar melakukan segala cara, dengan menyebar kebohongan semacam ini. Mereka dengan sengaja dan terus-menerus mencoba agar tercipta ketidakstabilan dan adu domba.

Lalu di mana polisi kita? Mestinya segera bertindak menelisik siapa dalang di balik isu atau selebaran itu? Tapi biasanya bila ada peristiwa semacam ini, hanya dianggap sebagai angin lalu saja.

Namun di lain pihak, para kadrun yang berada di balik semua ini belajar dan mengevaluasi, untuk kemudian terus-menerus mencari pola baru bagaimana supaya situasi di masyarakat chaos.

Bayangkan bagaimana jumawanya kelompok ini sekarang karena bahkan sudah berani mengusik TNI? Apakah itu "buah" eksperiman dari Bahar bin Smith yang seenak jidatnya merendahkan pimpinan TNI AD?

Untung dia segera diamankan. Tetapi ternyata lingkungan ini malah ditembus isu bahwa mereka akan diceramahi oknum biang kerok yang niatnya merongrong republik ini?

Kita tidak paham bagaimana seharusnya sikap dan tindakan aparat keamanan terhadap kejadian semacam ini. Apakah harus mendiamkan saja? Menurut hemat penulis, ini semacam test case yang kalau dibiarkan akan diikuti lagi oleh aksi-aksi yang lain, yang mungkin lebih berani dan nekat.

Maka kita patut mempertanyakan kesiapan dan kesigapan aparat kita dalam menyikapi kejadian-kejadian yang didalangi para kadrun. Kasus terkini adalah Edy Mulyadi -- caleg gagal PKS -- yang dinilai telah menghina dan merendahkan seluruh masyarakat Kalimantan.

Oknum ini dengan berapi-api mengatakan bahwa pulau yang indah ini adalah tempat jin buang anak. Tetapi ketika direspons secara marah oleh masyarakat setempat -- dan seluruh anak bangsa yang cinta NKRI, oknum ini justru ngumpet entah di mana. Tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang dia telah katakan.

Ini ciri khas kadrun. Gemar menyebar hoaks dan fitnah, namun tidak dapat membuktikan apa yang mereka tuduhkan. "PKI bangkit, neo-komunis sedang berkonsolidasi dengan China untuk menguasai Indonesia".

Narasi ini berulang-ulang dihamburkan para kadrun. Tetapi mana buktinya? Tujuan mereka memang hanya ingin menimbulkan instabilitas dengan segala cara, sebagaimana biasa dilakukan oleh PKI dulu.

Sialnya, aparat keamanan kita hanya diam membisu, tidak mengundang oknum-oknum itu untuk dimintai klarifikasi dan minta petunjuk soal bukti. Sebab siapa tahu benar bukan? Dan so pasti akan kita dukung kalau memang benar apa yang ditudingkan itu.

Dan apabila tidak benar apa yang dia katakan, atau tidak dapat membuktikan tentang PKI bangkuit, neo komunis, China mau menguasai Indonesia, mbok ya diamankan dong. Ditangkap dan dijebloskan ke sel. Kalau dibiarkan, jadi kebiasaan.

Kasus Edy Mulyadi sepertinya hendak disikapi sama oleh pihak keamana kita. Banyaknya tuntutan agar yang bersangkutan ditangkap dan diadli, hingga tulisan ini di-publish, belum ada indikasi bahwa keamanan kita akan bergerak.

Sungguh sangat disesalkan bila polisi kita terkesan segan berurusan dengan kaum kadrun. Setiap kadrun berulah, pihak keamanan lamban bertindak. Sebaliknya bila kadrun merasa marah dan tersinggung oleh ucapan atau statemen seseorang, polisi cepat merespons laporan kadrun.

Sekarang negeri sedang bergolak gara-gara mulut Edy Mulyadi. Dan jangan lupa, masih beberapa waktu lalu, oknum bernama Fahmi Herbal yang menghina Indonesia, sampai kini aman-aman saja. Apakah itu yang hendak diuji-cobakan polisi atas kasus Edy Mulyadi ini?

Mungkin polisi beranggapan bahwa bangsa ini suka memaafkan. Itukah sebabnya setiap aksi marah itu dibiarkan saja, atau anggap sepi emosi orang-orang? Karakter khas Nusantara memang pada dasarnya pemaaf.

Tapi karakter ini mulai rusak oleh kadrun asal gurun yang dikit-dikit langsung demo dengan beringas. Itukah yang membuat pihak kemanan kita segera merespons dan melayani aduan para kadrun? Sangat memprihatinkan.

Dan kalau polisi punya anggapan semacam ini, itu sangat keliru dan menjadi preseden buruk di masa depan. Kadrun itu musuh nyata NKRI saat ini, harus diberantas.

Dalam konteks terbaru, polisi jangan biarkan masyarakat yang tersinggung bertindak sendiri. Sebab penghinaan ini memang sudah di luar batas. Janganlah menjadi polisi India, yang datang tergopoh-gopoh setelah masalah selesai.