Umum

Fenomena Aksi Borong Minyak Goreng, Panic Buying kok Nggak Sembuh-Sembuh Sih?.

Widodo SP 4 months ago 0.0

Entah kenapa malam ini mata seperti nggak ada ngantuknya sama sekali, padahal tadi sore aktivitas fisik dengan berolah raga basket sebanyak 4 game sudah saya lakukan, ditambah bantuin kesibukan istri mencuci pakaian dan mengurus orangtua ... ya sudah mendingan saya pakai buat menulis.

Kebetulan sore tadi seusai bermain basket saya sempat mampir ke swalayan untuk membeli buah dan sedikit keperluan harian lain, lalu sempat melihat stok minyak goreng dari berbagai merk yang biasanya berderet dengan warna kuningnya seakan nggak mau kalah sama warna bendera parpol, eh mendadak kosong melompong.

Sebotol atau sebungkus versi isi ulangnya pun tidak terlihat. Mirip seperti pemandangan yang saya lihat di toko berlabel A yang terkenal itu, dimana beberapa merk minyak goreng yang saya tahu juga ludes tak tersisa, hanya ada beberapa bungkus plastik minyak goreng bermerk biasa. Mungkin tak begitu diminati seperti merk-merk lainnya.


Fenomena menghilangnya minyak goreng dari rak-rak swalayan hingga toko sembako memang tak bisa dipisahkan dari program pemerintah menyediakan minyak goreng bersubsidi dengan banderol Rp. 14.000 per liter, yang segera bertemu dengan kebiasaan lama warga negeri plus 62 dengan aksi panic buying. Mirip dulu sewaktu hand sanitizer, masker, hingga tabung oksigen juga mendadak langka karena aksi borong dadakan yang dilakukan sebagian masyarakat kita.

Terus terang saya sendiri sukar memahami kenapa warga kita kok tidak bisa slow saja merespons program minyak goreng ini, dengan tujuan agar harga terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan minyak goreng untuk memasak.

Untuk memasak loh ya, bukan dipakai cuci muka biar wajah glowing, apalagi dipakai mandi. Dijual lagi? Ya mungkin bisa jadi alasan dengan berharap dapat untung gede karena permintaan tinggi tetapi barang langka. Sedangkan sebagian lagi, alasan yang lebih masuk akal mengarah pada kekhawatiran stok minyak di rumah habis.

Kalau sudah begini biasanya akal bulus pun bekerja. Mau dibatasi hanya boleh maksimal beli dua? Gampang. Kerahkan suami, istri, dan anak-anak ... lalu balik ke toko sehari dua tiga kali, lalu berganti toko yang lain juga bisa. Rasanya kebanyakan toko atau swalayan hanya mensyaratkan batas maksimal transaksi dalam sekali beli, bukan satu orang hanya boleh belanja sekali, apalagi hitungan per kartu keluarga. Kayak situasi darurat saja!


Kita pun pasti paham kalau panic buying ini seperti mentalitas atau kebiasaan yang susah sembuhnya, tinggal menunggu triggernya saja, yang biasanya tak jauh dari kondisi: harga murah, sedang sangat dibutuhkan, atau semacam limited edition.

Jangan bahas soal moral atau kepedulian karena pasti akan diabaikan oleh mereka yang hanya berpikir buat diri sendiri atau keluarga mereka. Seandainya mereka berpikir orang lain juga akan membutuhkan, pastilah rak-rak di sekitar kita masih berkilauan dengan warna khas minyak goreng yang terpampang di sana.

Inilah PR besar yang rasanya juga menjadi masalah klasik (boleh saya sebut semacam penyakit)? yang perlu disembuhkan atau mulai diubah, karena dalam kondisi tertentu ketika kebutuhan itu menyangkut nyawa ... pastilah akan terjadi chaos!


Come on ... mari berpikir dan bertindak dengan akal.sehat, buat apa sih memborong minyak goreng sampai orang lain tidak kebagian? Mumpung harga murah? Ada benarnya sih, tapi apa iya setiap hari kebutuhan minyak gorengnya hingga 5-10 liter kecuali memang dipakai berjualan? Nanti kalau minyak goreng jadi langka, trus penjual gorengan tutup semua, pada protes lagi. Hahaha...Sungguh kumpulan manusia aneh!

Namun, saya tidak mau munafik dengan berkata tidak membutuhkan minyak goreng, karena minimal sebulan untuk memasak keluarga kecil saya akan membutuhkan setidaknya 3-5 liter minyak goreng. Apakah saya juga ikutan latah memborong dengan alasan biar tidak kehabisan atau dibuat stok bulanan?

Syukurlah saya tidak berpikiran begitu. Kalau pun habis, ya sudah biarkan saja. Masih ada masakan lain yang bisa disajikan tanpa memerlukan minyak goreng juga kok, buat selingan biar nggak goreng-gorengan terus, kan juga katanya masakan dengan cara digoreng kurang baik kalau keseringan?

Nah sekarang saya agak bingung juga menutup dengan kalimat apa. Kalau menghimbau ini dan itu, nanti dikira saya buzzer Mendag. Kalau saya kecam berlebihan, nanti dikira saya aktivis anti minyak goreng. Jadi .... sekian tulisan saya kali ini. Saya tutup ya, udah mulai ngantuk, mau tidur dulu.

Begitulah kura-kura...