Techno

Starlink VS BTS? Dua Menteri Beda Pandangan: Luhut VS Erick Thohir. .

Daeng 13 days ago 371.0

Pemirsa, pernah baca ngak pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan soal Starlink dan BTS?

Opung Luhut mengeluarkan pernyataan yang bisa dinilai kontroversial dan bisa juga memicu perdebatan hangat di kalangan publik dan pakar telekomunikasi.

Jadi begini. Luhut menyebut bahwa dengan hadirnya Starlink, Indonesia tidak lagi memerlukan Base Transceiver Station atau BTS. BTS Itu loh, yang pernah ramai soal kasus korupsi 8T terkait nama Johny Plate. Masih ingat kan?

BTS selama ini yang berfungsi untuk layanan internet dan telekomunikasi. Dan dengan adanya starlink yang nembak langsung ke satelit yang ada di area orbit rendah bumi, maka secara gambaran kasarnya untuk menggunakan internet maka tidak lagi dibutuhkan BTS.

Nah apakah benar demikian? Luhut memang seorang pejabat tinggi negara namun soal teknologi yang njelimet itu haruslah ada pakarnya. Pejabat dalam hal ini adalah pemerintah, hanya bermain pada tataran kebijakan, namun perlu juga pengetahuan tentang teknologi ini sehingga nantinya tidak akan keliru mengeluarkan kebijakan. Begitu kan?

Pernyataan Luhut itu menimbulkan banyak pertanyaan mengenai pemahaman mendalam terkait infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Starlink, proyek ambisius milik SpaceX, menawarkan internet berbasis satelit yang menjanjikan kecepatan tinggi dan cakupan luas, bahkan di daerah terpencil. Nah itu klaim dari Starlink.

Dan Luhut pun berpendapat bahwa Starlink bisa menjadi solusi bagi wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh BTS konvensional.

Namun, pandangan ini dianggap simplistis dan tidak sepenuhnya memahami kompleksitas telekomunikasi nasional.

Pakar telekomunikasi menjelaskan bahwa BTS tetap esensial dalam jaringan telekomunikasi.

BTS adalah infrastruktur dasar yang menghubungkan perangkat pengguna ke jaringan seluler. Sementara Starlink bisa membantu menjangkau area terpencil, jaringan satelit ini tidak bisa sepenuhnya menggantikan BTS yang berperan penting dalam menyediakan layanan telepon dan data di perkotaan dan pedesaan dengan kepadatan tinggi.

Infrastruktur telekomunikasi yang ideal adalah kombinasi antara jaringan BTS dan satelit, bukan saling menggantikan. Benarkah seperti itu? Silahkan tuliskan paparan pembaca di kolom komentar. Atau ada pakar yang sedang baca ini, dengan senang hati jika mau berkomentar. Hiha.

Jadi antara BTS dan Satelit bisa saling berkolaborasi kan? Maka seharusnya para pakar segera duduk bareng dengan Opung, biar Luhut makin paham sehingga memininimalkan kerugian pihak lain. Iya kan?

Nah dengan pernyataan Luhut ini, juga memicu tanggapan berseberangan dari Menteri BUMN, Erick Thohir.

Erick menegaskan bahwa Indonesia masih memerlukan BTS untuk memastikan stabilitas dan kehandalan layanan telekomunikasi. Semoga pernyataan ini tidak terkait dengan proyek BTS yang sudah terlanjur jalan ya? Hiha.

Erick menekankan pentingnya sinergi antara teknologi baru dan infrastruktur yang sudah ada untuk membangun ekosistem telekomunikasi yang kuat dan berkelanjutan.

Respon berseberangan antara Luhut dan Erick mencerminkan pandangan yang berbeda mengenai strategi pengembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia.

Erick berpendapat bahwa investasi pada BTS masih sangat diperlukan untuk mendukung ekonomi digital yang sedang berkembang pesat, asal jangan ada kasus korupsi BTS lagi maka proyek digital ini bisa berjalan lancar pemirsa.

Jadi apakah Opung Luhut belum paham sepenuhnya BTS dan satelit? Sehingga lebih menyoroti potensi inovasi teknologi satelit dengan menyingkirkan BTS?

Kita tunggu para pakar angkat bicara. Tetapi kalau negara tidak memberikan kesempatan kepada para pakar, yahh... mau diapalagi, Indonesia bisa jadi permainan asing kan?

Perdebatan ini menarik perhatian publik, terutama bagi mereka yang tertarik pada masa depan telekomunikasi Indonesia.

Bagaimana integrasi antara teknologi lama dan baru bisa terjadi? Apakah pemerintah akan mendukung pengembangan BTS sekaligus mengadopsi teknologi satelit?

Masa depan telekomunikasi di Indonesia tampaknya akan menjadi topik yang terus menarik untuk diikuti, seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.