Sport

RANS FC Incar Mesut Ozil, Apa Dampaknya Untuk Sepakbola Indonesia.

Hardiyanto 19 days ago 784.0

Tak ada angin tak ada hujan, berita bombastis beredar di kalangan sepakbola Indonesia. RANS FC, klub sepakbola milik pesohor tanah air Rafi Ahmad diberitakan mengincar Mesut Ozil. Nama Mesut Ozil bukanlah nama sembarangan di jagat sepakbola dunia. Mesut Ozil adalah pesepakbola Jerman berdarah Turki yang saat ini berusia 33 tahun. Karirnya membentang dari Schalke 04, Werder Bremen, Real Madrid, Arsenal hingga raksasa Turki Fernebache. Di level negara, Ozil merupakan andalan timnas Jerman sejak debutnya di tahun 2009 hingga 2018. Ozil adalah pilar penting Jerman kala menyabet gelar juara Piala Dunia 2014. Di level klub sederet gelar pernah diraihnya, mulai dari Piala Liga Jerman, La Liga, Copa del Rey hingga FA Cup. Bisa dibilang Ozil masih menjadi salah satu pesepakbola top Eropa saat ini.

Berita ketertarikan ini bukan hanya isapan jempol belaka. Bukan cuma berita hoax yang disebarkan media hanya untuk menaikkan oplah media. Berita ini bahkan sudah menjadi headline salah satu media besar di Turki. Rafi Ahmad sendiri sudah mengkonfirmasi kebenarannya. Dikatakannya sudah ada kontak dengan Ozil pribadi. Dan menurut Rafi Ahmad Mesut Ozil menunjukkan ketertarikan atas proposal RANS FC tersebut. Jika hal tersebut menjadi kenyataan, Ozil akan menjadi nama tenar kesekian yang bermain di Indonesia. Saat ini sudah ada nama Marco Motta yang memperkuat Persija. Mundur lebih jauh ada nama Carlton Cole, Michael Essien, Mohammed Sissoko, Pierre Njanka, Mario Kempes serta Roger Milla yang pernah merumput di Indonesia. Semuanya merupakan nama tenar di sepakbola dunia. Prestasinya sudah tidak diragukan lagi, meski mereka datang ketika sudah di penghujung karir.

Pertanyaannya, sepadankah upaya perekrutan Mesut Ozil, dan apa dampak yang akan diberikan Ozil seandainya dia jadi merumput di Indonesia. Dampak positif pertama adalah massifnya pemberitaan media. Saat ini saja pemberitaan tentang potensi transfer yang akan terjadi sudah sangat banyak. Tidak terbayang jika transfer benar-benar terjadi. Liga Indonesia akan mendapat porsi pemberitaan media, tidak hanya dalam dan luar negeri. Belum lagi jika kita bicara soal efek bisnis. Eksposur media yang luar biasa jelas akan berdampak pada finansial. Aliran sponsor akan semakin deras, nilai hak siar liga akan naik drastis. Belum lagi penjualan merchandise dan tiket penonton. Liga Indonesia dan RANS FC khususnya akan menikmati keuntungan finansial yang jelas tidak sedikit. Hal positif terkahir adalah transfer ilmu antara pemain level dunia dengan pemain lokal. Kehadiran pemain sekaliber Ozil jelas akan menaikkan level sepakbola Indonesia. Jika sebelumnya kita hanya bisa menyaksikan permainan indah Ozil dari layar televisi, kedepannya bisa beradu satu lapangan bersama. Prospek bermain bersama maestro sepakbola sekelas Mesut Ozil akan berdampak bagus bagi pemain muda. Bisa terjadi transfer ilmu yang akan banyak menguntungkan pemain muda kita.

Di luar hal positif, tentu juga ada hal negatif yang perlu dipertimbangkan. Yang pertama lagi-lagi soal finansial. Investasi yang harus dikeluarkan untuk pemain sekaliber Ozil tidaklah murah. Berdasarkan situr Transfermarkt, nilai pasar sang pemain berada pada kisaran 3,7 juta Euro atau sekitar Rp. 60 milyar. Artinya uang sejumlah itu harus dikeluarkan RANS FC untuk menebus kontrak Ozil dari Fenerbache. Jumlah itu belum termasuk gaji dan bonus serta komisi agen yang harus disiapkan. Untuk kontrak satu tahun saja setidaknya harus tersedia dana Rp. 100 milyar, hanya untuk satu orang pemain. Jumlah itu jelas besar untuk level klub sepakbola Indonesia. Biasanya bujet sebuah tim papan atas di Indonesia hanya menyentuh angka Rp. 50 milyar semusim. Angka Rp. 100 milyar bisa dipakai untuk membangun fasilitas seperti training ground atau bahkan stadion kecil dengan kapasitas 5 atau 6 ribu penonton. Angka sebesar itu juga akan sangat berarti jika dialihkan untuk pembinaan pemain muda. Singkatnya, klub sepakbola Indonesia belum berada pada level finansial untuk pemain seperti Mesut Ozil.

Hal negatif kedua yaitu mindset atau pola pikir para stake holder sepakbola Indonesia. Ini menurut saya jauh lebih berbahaya dibandingkan hal yang lain. Sudah bukan rahasia jika para pengelola klub sepakbola di Indonesia memiliki mindset atau pola pikir yang sempit. Prestasi diraih dengan instan, bukan melalui proses yang benar. Membangun klub sepakbola dengan mendatangkan pemain bintang berharga mahal sering dilakukan oleh klub bola tanah air. Kedatangan pemain bintang ini menggambarkan bahwa sepakbola Indonesia sudah maju. Atau setidaknya menarik bagi para pemain top tersebut. Pola ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Jepang, Australia dan AS pernah melakukannya. Dan memang faktanya mereka sukses membangun sepakbola, hingga saat ini menjadi negara dengan prestasi sepakbola top. Namun jangan dilupakan bahwa mereka juga membangun fondasi yang benar. Pembinaan dan infrastruktur dibangun. Pemain tidak hanya dibekali skill, tetapi juga dibangun mentalnya. Namun Indonesia belum melakukan hal yang sama.

Kesimpulannya, kedatangan pemain bintang seperti Mesut Ozil memang bisa memberikan dampak positif untuk sepakbola Indonesia. Namun itu tidak menjawab inti permasalahan mengapa sepakbola kita tidak pernah maju. Perbaikan iklim kompetisi, pembinaan pemain muda serta pembangunan infrastruktur adalah hal yang esensial untuk mendukung prestasi. Jika ketiga hal tersebut tidak dibangun dengan baik, kedatangan pemain top seperti Mesut Ozil tidak akan berdampak besar bagi sepakbola Indonesia. Lagipula klub sepakbola Indonesia belum pada level keuangan untuk mendatangkan pemain bintang selevel Mesut Ozil. Bahkan jika itu klub sultan macam RANS FC, Persis Solo, Arema FC, Persib Bandung ataupun Bali United. Daripada menghabiskan uang 50 atau 100 milyar untuk satu orang pemain, bukankan lebih baik dana itu dialokasikan untuk membangun training ground, akademi dan fasilitas pendukungnya atau mengontrak pelatih internasional untuk tim muda. Atau bisa juga membangun sebuah stadion. Toh stadion seperti Thunder Castle milik Buriram United hanya membutuhkan anggaran 300 milyar rupiah. Bukannya saya tidak mau Ozil bermain di Indonesia. Hanya saja kita harus realistis. Level sepakbola kita memang belum mencapai arah sana.