Sport

Percaya Proses, Percaya Coach STY.

Hardiyanto a month ago 751.0

Turnamen Piala AFF 2020 sudah selesai digelar. Setelah tertunda setahun akibat pandemi Covid-19, Singapura sukses menyelenggarakan Piala AFF sejak Desember 2021 hingga hari pertama di tahun 2022. Sayang hasil akhir tidak terlalu menggembirakan bagi pendukung tim Garuda Jaya. Untuk keenam kalinya Indonesia harus puas menjadi runner-up. Lagi dan lagi, kita harus mengakui keunggulan Thailand, yang ironisnya menyegel gelar juara AFF keenam. Walaupun begitu, kiprah Indonesia di turnamen AFF kali ini cukup menarik untuk disimak. Perjalanan tim Garuda bagaikan roller coaster, naik dan turun sepanjang turnamen. Tidak diunggulkan di awal turnamen, Indonesia mulus melaju menjadi juara grup mengangkangi Vietnam dan Malaysia. Sukses mengalahkan tuan rumah Singapura di semifinal, Indonesia harus tunduk dari tim Gajah Perang Thailand di fase akhir. Pelatih Shin Tae-yong bahkan menganalogikan bagaikan perjalan dari surga ke neraka bolak-balik.

Melihat kiprah Garuda Jaya, terdapat beberapa hal menarik yang layak untuk disimak. Indonesia menunjukkan peningkatan dibandingkan saat menjalani laga kualifikasi Piala Dunia silam. Mengenai hal tersebut akan dibahas secara detail berikut ini.

Kerangka Tim Mulai Terbentuk

Sejatinya AFF Suzuki Cup 2020 bukanlah ajang debut bagi coach STY menangani Indonesia. Laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022, kualifikasi Piala Asia U-23 dan play-off kualifikasi Piala Asia 2023 sudah dijalani coach STY sebelumnya. Namun turnamen kali ini terasa berbeda. Bisa dibilang kali ini STY benar-benar membangun tim dari nol. STY bereksperimen membangun tim sesuai dengan karakter yang diinginkan. Melihat perjalanan Indonesia di Piala AFF ini, kerangka tim mulai terbentuk. Beberapa nama terlihat menjadi andalan coach STY. Peran mereka terlihat vital dan tidak tergantikan. Ricky Kambuaya, Pratama Arhan, Alfreada Dewangga, Asnawi dan Witan Sulaeman memegang peran besar dalam tim yang disusun oleh coach STY. Beberapa nama lain seperti Irfan Jaya, Ramai Rumakiek, Egy Maulana, Elkan Baggott serta Rizky Ridho bisa dipastikan juga menjadi anggota tim. Jika ditambah pemain keturunan yang sedang mengurus status WNI, tim diyakini akan lebih mantap. Coach STY tinggal mencari striker tajam yang akan menjadi penyelesai serangan tim. Ini tentu sinyal positif menjelang bergulirnya babak kualifikasi Piala Asia 2023.

Munculnya Pemain Muda

Salah satu sisi positif tim Garuda Jaya di gelaran Piala AFF ini adalah munculnya banyak pemain muda. Berdasarkan data statistik, Indonesia menjadi salah satu tim termuda dengan rata-rata usia pemain 23,7 tahun. Dari 30 orang yang didaftarkan, 13 diantaranya masih berusia dibawah 23 tahun. Pengakuan akan kualitas pemain muda kita tergambar dari terpilihnya Pratama Arhan sebagai pemain muda terbaik. Untuk kategori ini, Indonesia sendiri diwakili oleh dua nama. Di luar nama-nama yang terdaftar dalam skuad, Indonesia sejatinya masih memiliki beberapa nama lain yang juga merupakan pemain muda potensial. Artinya dari segi kuantitas maupun kualitas, Indonesia tidak kekurangan bakat-bakat muda. Ini yang harus kita kembangkan lebih jauh. Kabar terbaru, Arhan dan Dewa mendapat minat dari beberapa klub luar negeri. Dorongan besar agar pemain muda kita berkiprah di luar Indonesia semakin luas. Selain Arhan dan Dewa, Ramai Rumakiek juga diharapkan mengembangkan karir di luar negeri. Rikcy Kambuaya dalam keterangan resminya menyatakan kesediaan jika ada kesempatan bermain di Korea atau Jepang.

Ujian Mental Pemain Muda

Dengan diisi mayoritas pemain muda dan debutan, turnamen kali ini memberikan ujian mental bagi para pemain. Laga melawan Vietnam, Malaysia, Singapura dan Thailand menjadi pembelajaran penting untuk perkembangan mentalitas pemain. Dan sejauh ini pemain muda kita menunjukkan perkembangan yang positif. Vietnam dan Malaysia yang beberapa waktu terkahir selalu menjadi momok, perlahan tapi pasti bisa kita kejar. Laga melawan Singapura yang diwarnai banyak drama bisa dilalui dengan tenang. Laga final melawan Thailand sempat memunculkan sikap skeptis karena kekalahan telak 0-4 di leg pertama. Namun di leg kedua pemain muda kita menampilkan respon yang berbeda. Skor agregat memang tidak bisa dikejar. Namun hasil imbang 2-2 menunjukkan bahwa pemain kita masih bisa berkembang. Naik turunnya penampilan timnas masih bisa dimengerti. Banyaknya pemain muda membuat penampilan tim belum konsisten. Terdapat beberapa momen dimana pemain kita panik ketika ditekan dan melakukan beberapa kesalahan. Tapi itu masih dalam konteks wajar. Karena lawan yang dihadapi merupakan pemain yang berpengalaman.

Secara umum, Indonesia sudah menampilkan permainan yang cukup baik. Tentu ada kekurangan yang harus diperbaiki, semisal akurasi umpan yang masih kurang, ketenangan ketika menghadapi tekanan lawan serta kecerdikan dalam memanfaatkan kelemahan lawan. Tapi yang pasti tim ini sedang berproses menuju kematangan. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, mempertahankan coach STY untuk jangka panjang menjadi langkah bijak. Jangan sampai proses yang sudah berjalan harus terhenti karena pergantian pelatih. Kontrak jangka panjang harus diberikan kepada coach STY. Akan menjadi kerugian besar kehilangan pelatih sekaliber STY. #Percayaproses,percayaSTY