Sport

Nasib Buruk The Magpies, Klub Sultan Calon Degradasi.

Hardiyanto 4 months ago 522.0

Pepatah yang mengatakan uang tidak bisa membeli segalanya bisa jadi ada benarnya. Jika masih tidak percaya, tanyakanlah hal tersebut kepada pendukung Newcastle United. Akhir 2021 lalu klub berjuluk The Magpies diakuisisi oleh konsorsium yang dipimpin oleh PIF. Public Investment Fund (PIF) sendiri adalah institusi yang bertanggung jawab atas investasi dana hasil minyak kerajaan Arab Saudi. Dibawah kontrol MBS, putra mahkota Arab Saudi, PIF mengelola dana ratusan milyar dolar. Akuisisi ini secara tidak langsung membuat Newcastle jadi salah satu klub sultan. Sokongan dana PIF layaknya uang yang tidak punya nomor seri, tidak akan habis untuk tujuh turunan.

Pasca akuisisi oleh PIF, optimisme merebak di kalangan pendukung The Magpies. Bayang-bayang kesuksesan eran 90an menyeruak. Newcastle era 90an memang berbeda dengan klub yang saat ini. Kala itu Newcastle adalah salah satu tim kuat di tanah Britania. Mereka bahkan menjadi ganjalan MU dalam meraih gelar EPL. Berturut-turut Kevin Keegan dan Sir Bobby Robson yang menjadi manajer Toon Army mampu mengangkat prestasi klub ke papan atas. Deretan pemain seperti Alan Shearer, Nolberto Solano, Kieron Dyer, Lauren Robert hingga Michael Owen menjadikan materi pemain Newcastle momok bagi para rival. Masa itu Chelsea masih menjadi tim papan tengah, Manchester City adalah rajin naik turun kasta bahkan Liverpool tidak bagus-bagus amat. Hanya MU dan Arsenal yang jadi lawan sepadan. Namun sejak pertengahan 2000an prestasi tim menurun secara perlahan. Newcastle akrab dengan papan bawah. Bahkan Newcastle pernah merasakan degradasi sampai dua kali. Hingga saat ini The Magpies masih konsisten dengan level medioker yang sudah mereka tunjukkan satu dekade terakhir.

Musim ini kondisi Newcastle masih tidak berubah. Sejak awal musim Newcastle tidak pernah beranjak dari papan bawah. Peringkat di liga tidak pernah lebih baik dari tangga 15. Newcastle sulit meraih kemenangan, sejauh ini baru satu kali Newcastle memenangi laga. Akuisisi PIF sempat memunculkan harapan. Gelontoran uang dari investor kaya raya membuat suporter merasa nasib mereka akan berubah. Mereka berkaca dari Manchester City yang berubah menjadi tim top pasca akuisisi oleh ADUG. Dewan direksi Newcastle percaya diri bahwa mereka akan menguat. Pemain-pemain bintang banyak yang dikaitkan dengan Newcastle. Uang bukan masalah buat mereka. Iming-iming transfer selangit dan gaji besar bisa mereka tawarkan pada pemain incaran. Banyak nama yang kemudian dikaitkan dengan The Magpies.

Namun sejauh ini, kenyataan yang ada tidak seindah mimpi. Walau memiliki otot finansial mumpuni, Newcastle sulit mendatangkan nama besar untuk memperkuat tim. Baru Kieran Trippier yang berhasil diboyong. Newcastle lebih akrab dengan penolakan. Aron Ramsey menolak tawaran Newcastle walau gajinya besar. Niklas Sule tidak tertarik dengan proyek yang ditawarkan Toon Army. Pada intinya mereka merasa bermain untuk Newcastle memiliki prospek bagus untuk karir mereka. Newcastle saat ini memang tidak memiliki daya pikat bagi pemain top. Tentu sulit berharap pada klub yang bahkan terseok-seok di zona degradasi. Bermain di Championship Division bukan yang diinginkan berada dalam resume pemain bintang.

Kesulitan menggaet pemain berkualitas ini kemudian berimbas pada performa di atas lapangan. Pasca akuisisi oleh PIF, Newcastle bahkan belum meraih satupun kemenangan. Hasil imbang adalah pencapaian terbaik di liga. Di ajang FA Cup lebih parah, Newcastle disingkirkan oleh tim antah berantah yang entah berasal dari divisi mana. Hal itu bahkan terjadi di kandang sendiri. Melihat posisi di klasemen, saat ini Newcastle berada di tangga 19 dengan mengoleksi 12 poin. Masalahnya Burnley yang ada di tangga 20 dengan 11 poin masih menyimpan 3 laga sisa. Artinya Newcastle akan langsung tergeser ke posisi buncit andai Burnley bisa mengambil poin dari salah satu laga sisa tersebut. Watford dan Everton di tangga 16 dan 17 juga menyimpan satu laga sisa sehingga masih ada peluang melebarkan jarak dari Newcastle. Hanya Norwich yang mungkin digeser Newcastle di papan klasemen.

Berharap pada skuad yang ada bukanlah hal yang bijaksana. Newcastle kekurangan kualitas di semua sektor permainan. Sulit mencetak gol namun mudah kebobolan. Sejauh ini Newcastle baru mencetak 20 gol di liga, namun sudah kebobolan 43 kali. Kalau dirata-rata Newcastle hanya bisa mencetak satu gol per laga, namun kebobolan setidaknya dua gol per laga. Newcastle butuh bek yang tangguh, gelandang yang kokoh, playmaker kreatif, sayap cepat serta monster kotak pinalti. Namun belum ada nama-nama berkualitas yang hadir ke St. James Park. Ternyata tidak semua pemain bisa dibujuk oleh uang. Pekerjaan rumah yang berat bagi Eddie Howe untuk menyelamatkan Newcastle kali ini.

Melihat situasi yang ada, akan cukup berat bagi Newcastle untuk bisa bertahan di EPL. Jadi kubur dulu mimpi menjadi juara seperti The Citizens. Buang jauh-jauh bayangan mendatangkan pemain seperti Mpabbe atau Haaland. Newcastle harus realistis dengan kenyataan. Jangankan naik ke papan atas, untuk bertahan saja sudah sulit. Bagaimana mau bersaing dengan Watford, Everton atau Leeds United jika tidak bisa menang lawan tim yang 2 divisi dibawah EPL. Akan menjadi sebuah ironi jika klub sultan yang disokong dana berlimpah malah degradasi ke divisi bawah.