Sport

Menanti Kehadiran Monster Lokal Lini Serang Tim Nasional.

Hardiyanto 4 months ago 445.0

Pekerjaan rumah berat masih menanti coach STY bersama tim nasional. Satu hal yang hingga saat ini masih dicari jawabannya yaitu penyerang lokal haus gol untuk timnas Garuda. Untuk yang satu ini memang belum ditemukan solusinya. Jika kehilangan Kurnia Meiga sudah bisa tertutup oleh kehadiran Nadeo dan Ernando, untuk sektor lini depan coach STY masih mencari pemain yang tepat dan bisa diandalkan. Apa yang terjadi saat gelaran Piala AFF lalu bisa menjadi gambaran peningnya kepala coach STY saat ini. Empat penyerang yang dibawa dan dimainkan hanya bisa menghasilkan dua gol, itupun hanya berasal dari seorang Ezra Walian. Tiga penyerang lainnya nihil gol meski mendapat cukup banyak kesempatan bermain.

Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru bagi timnas kita. Bambang Pamungkas bisa dibilang predator lini serang terakhir yang dimiliki oleh timnas kita. Catatan 37 gol dalam 85 laga internasional menempatkan BP dalam tangga kedua pencetak gol terbanyak timnas sepanjang sejarah. Sampai saat ini belum ada lagi nama-nama striker lokal yang memiliki catatan seperti BP. Jangankan menyamai, mendekati pun tidak. Kesulitan yang saat ini dialami coach STY sebelumnya sudah dirasakan oleh Luis Milla, Simon McMenemy, RD, Jackson Tiago serta pelatih-pelatih lainnya yang pernah menangani timnas. Hal inilah yang kemudian mendorong PSSI menaturalisasi nama-nama seperti Gonzales, Beto dan Spasojevic.

Sejatinya bukan kita tidak memiliki penyerang lokal yang berkualitas. Hanya saja jika kita bicara soal stabilitas prestasi dan permainan memang tidak ada yang menyamai BP. Beberapa nama pernah mencuat seperti Boaz Solossa, Ilham Jayakesuma, Saktiawan Sinaga, Yongki Aribowo, Lerby Eliandry sampai Syamsir Alam. Namun tidak banyak yang secara konsisten berkontribusi bagi timnas. Boaz mungkin yang paling mendekati, bahkan sempat menjabat sebagai kapten timnas. Namun cedera membuat Boaz sering absen membela timnas. Belum lagi hubungan Boaz dengan PSSI yang pasang surut. Boaz bahkan belum lagi membela timnas sejak era Luis Milla. Nama-nama lain seperti Ilham, Sakti dan Yongki sempat membela timnas, namun masa edar mereka tidak lama. Nasib paling miris mungkin dialami oleh Syamsir Alam. Sempat menjadi andalan di timnas kelompok umur, Syamsir digadang-gadang jadi andalan di level senior. Namanya bahkan sempat mencuat kala dikontrak oleh Penarol, DC United dan CS Vise. Namun sayang karirnya merosot tajam setelah kembali ke tanah air. Cedera parah membuatnya absen panjang. Permainannya menurun dan mentalnya tidak pernah pulih hingga memutuskan pensiun di usia 25 tahun.

Lalu apa yang membuat penyerang lokal tidak memiliki karir yang awet, terutama di timnas. Penyebabnya ada beberapa, namun dua faktor dominan akan kita bahas berikut ini. Pertama, peran di klub. Bukan rahasia jika klub-klub liga lokal lebih banyak mengandalkan pemain asing di sektor lini depan. Tercatat hanya KH Yudo, Dedik Setiawan dan Samsul Arif yang menjadi andalan klub lokal di lini serang. Selebihnya harus menerima kenyataan kalah bersaing dengan striker impor. Jikalaupun ada penyerang lokal yang diberi banyak menit bermain, mereka lebih dimainkan di sektor penyerang sayap. Ini yang kemudian membuat kita banjir penyerang sayap jempolan, tapi minim striker top. Kedua, konsistensi bermain. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, masalah pemain lokal sejatinya bukan soal skill, namun lebih kepada mentalitas. Masalah mental ini yang membuat permainan striker lokal naik turun. Biasanya cedera menjadi momok. Ilham, Yongki, Dedik dan Syamsir Alam adalah contoh. Mereka bermain baik namun menurun pasca cedera. Yongki dan Syamsir Alam bahkan harus menerima kenyataan karirnya habis bahkan sebelum masuk usia emas.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh PSSI untuk mengatasi masalah ini. Solusi jangka pendek sudah dilakukan PSSI, yaitu menaturalisasi pemain. Yang terbaru PSSI dikabarkan akan menaturalisasi Ragnar Oeratmangon, penyerang yang saat ini membela Go Ahead Eagles di Eredivisie. Namun hal ini tidak bisa terus dilakukan karena stok pemain keturunan jelas tidak banyak. Yang lebih penting dilakukan PSSI adalah memberikan kesempatan kepada pemain lokal untuk unjuk gigi. Diharapkan dengan banyaknya kesempatan bermain maka skill penyerang lokal akan lebih terasah. Caranya yaitu dengan melakukan pembatasan slot pemain asing dan membuat regulasi yang mewajibkan klub memainkan pemain muda. Untuk pembatasan slot pemain asing perlu dilakukan karena dengan kondisi saat ini dimana klub boleh mengontrak 4 pemain asing, tidak jarang sebuah klub memiliki 2 penyerang asing. Sementara regulasi yang mewajibkan klub memainkan pemain muda pernah diterapkan saat turnamen ISC 2016 serta Liga 1 2017. Dedik Setiawan adalah produk dari regulasi tersebut.

Kesimpulannya memang perlu revolusi kebijakan dari PSSI agar kualitas pemain lokal bisa meningkat. Situasi yang dialami coach STY seharusnya tidak dipandang sebagai situasi yang biasa saja. Ini sudah tidak normal dan akhirnya timnas yang harus merasakan dampaknya. Semoga saja bapak-bapak di PSSI menyadari hal tersebut dan segera melakukan perbaikan. Semua demi prestasi timnas yang lebih baik lagi.