Sport

Haruna Soemitro, Antara Kontroversi dan Prestasi.

Hardiyanto 4 months ago 647.0

Setelah namanya cukup lama tidak terdengan nyaring di kancah sepakbola nasional, seminggu terakhir ini Haruna Soemitro (HS) kembali menjadi perbincangan di masyarakat. Sayangnya bukan karena prestasinya, namun karena pernyataan kontroversialnya. Dalam sebuah podcast yang milik channel youtube JPNN, HS menyatakan beberapa statement yang kemudian membuatnya menjadi public enemy number 1 di masyarakat sepakbola Indonesia. Bahkan masyarakat ramai-ramai mengangkat tagar #Harunaout dan #STYstay di media sosial. Pecinta bola nasional bahkan mendesak agar HS mengundurkan diri dari posisinya sebagai anggota Exco PSSI. Bagi mereka sepakbola nasional akan jauh lebih baik tanpa sosok HS di dalamnya.

Sejatinya HS sendiri bukanlah nama baru di sepakbola, khususnya daerah di Jatim. Kiprah HS di sepakbola terbentang sejak 2003 lalu. Nama HS berkelindan antara prestasi dan kontroversi. Bicara prestasi, Persebaya dan Pengprov (Asprov) PSSI Jatim layak berterima kasih atas sumbangsih HS. Di Persebaya, HS mampu mengangkat prestasi Persebaya kala terpuruk di musim 2003. Tim Bajul Ijo diantarkannya promosi setelah hanya semusim menghuni Divisi 1. Tangan dingin HS berlanjut kala mampu membawa tim PON Jatim meraih medali emas tahun 2004. Setelah terpilih sebagai ketua Pengda PSSI Jatim, HS sukses mengangkat sepakbola Jatim di kancah nasional. Dimulai dari gelaran Piala Gubernur Jatim, banyaknya klub asal Jatim di level tertinggi kompetisi nasional sampai pembinaan pemain muda. Terakhir Madura United yang mampu dibawanya konsisten di level atas sepakbola nasional.

Di luar prestasi, tidak sedikit kontroversi yang menyertai langkah HS di sepakbola. Kontroversi utama yaitu soal match fixing. Nama HS banyak disebut oleh pelaku pengaturan skor. Namun sejauh ini belum ada proses hukum terhadap HS. Kurangnya bukti menjadi sebab. Mungkin karena melibatkan banyak orang, hanya sedikit yang mau buka mulut sehingga sulit mencari bukti kuat. Kala HS menjadi manajer Madura United, tidak sedikit pihak yang menyebut Madura United sering diuntungkan keputusan wasit terutama saat bermain di kandang. Namun sekali lagi, tanpa bukti yang kuat tuduhan tersebut hanya menjadi tuduhan kosong. Terkait statementnya yang menjadi kontroversi, di bawah ini akan dirangkum secara singkat.

Yang Penting Hasil, Bukan Proses

Statement yang satu ini mungkin bisa menggambarkan kekonyolan HS. Sebagai orang yang lama berkecimpung dalam sepakbola tentunya HS paham bahwa prestasi tidak bisa datang secara instan. Pembinaan pemain muda butuh waktu yang tidak sebentar. Minimnya prestasi sepakbola kita belakangan ini merupakan gambaran tidak konsistenya kita menjalani proses. Iri akan prestasi para rival, kita cenderung mengambil jalan pintas. Saat ini bersama STY kita sedang berproses dan harus sabar menanti hasil.

Match Fixing Tidak Perlu Diberantas

Tidak habis pikir dengan pola pikir HS. Pengaturan skor jelas-jelas mencederai fair play yang menjadi semangat dalam sepakbola. Juventus dihukum degradasi ke Seri B karena terbukti melakukan pengaturan skor, Vietnam menghukum pemain timnasnya karena hal yang sama dan terbaru Laos menghukum 45 orang pemain karena terlibat pengaturan skor. Selama pengaturan skor tidak tuntas diberantas, prestasi sepakbola kita tidak akan pernah maju.

Anti Naturalisasi

HS mengatakan sebagai orang kolot di sepakbola. HS tidak setuju dengan naturalisasi yang akhir-akhir ini dilakukan oleh PSSI. Selama ini juga tidak ada prestasi besar yang diraih. Lucunya selama HS mengelola Madura United, dia justru mengontrak sembilan pemain naturalisasi. Dan sejalan dengan perkataanya, selama ini Madura United juga tidak meraih trofi apapun. Namun perlu digarisbawahi bahwa naturalisasi yang dilakukan klub hanyalah akal bulus agar bisa mengontrak pemain asing baru.

Pola Latihan Klub dan Timnas Harus Seirama

Sebenarnya saya setuju dengan hal ini. Di negara seperti Inggris, Italia atau Spanyol pelatih timnas tidak jarang berdiskusi dengan pelatih klub. Hal ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Namun pola yang benar adalah klub yang menyesuaikan dengan timnas, bukan sebaliknya.

Tim Thailand AFF 2020 sama seperti Thailand Sea Games 2019

Ini juga statement yang menurut saya konyol. HS menyebut bahwa skuad Thailand di AFF 2020 sama seperti skuad Thailand di Sea Games 2019, hanya ditambahkan Theeraton Bunmathan dan Chanatip Songkrasin. Padahal berdasarkan data yang ada, Thailand adalah tim dengan rata-rata umur tertua di AFF 2020, yang artinya mereka membawa banyak pemain senior. Hanya empat pemain Sea Games 2019 yang dibawa Mano Polking ke AFF 2020. Sangat lucu jika seorang Exco sampai salah data seperti ini.

Melihat respon masyarakat sejauh ini, saya cenderung setuju dengan pendapat masyarakat. Terlepas dari pengalaman dan prestasi yang pernah dberikan HS, mungkin saat ini bukan lagi masa keemasan dari HS. Sosok dan pola pikir HS terlihat seperti dinosaurus yang terjebak di masa modern. Kita membutuhkan lebih banyak anak muda seperti Nabil Hussein, Gilang Pramana serta Ratu Tisha untuk memajukan sepakbola nasional. Namun untuk menggeser HS dari posisi Exco tidaklah mudah. Proses yang benar adalah melalui kongres, dan itu akan memakan waktu yang lama. Untuk saat ini marilah kita kawal STY agar bisa bekerja dengan baik. Dukungan penuh seperti yang diberikan oleh Mohammad Iriawan dan Hasani Abdul Gani merupakan angina segar. Perlulah kita ramaikan tagar #HarunaOut dan #STYStay.