Sport

Gabung Aston Villa, Ralat Karir ala Philippe Coutinho.

Eko Wibowo 4 months ago 316.0

"Bertahanlah di sini dan mereka akan membuatkan patung untuk penghormatanmu. Jika kau pergi ke tempat lain, ke Barcelona, Bayern Munich, atau Real Madrid, maka kamu hanya menjadi pemain pada umumnya. Di sini kamu bisa menjadi sesuatu yang lebih."

Wejangan tersebut adalah sebagian dari usaha Jurgen Klopp, pelatih Liverpool, yang sudah dilakukannya sejak 2017 demi mempertahankan salah satu bintang yang diasuhnya, Philippe Coutinho, yang ingin hengkang pindah klub. Tidak mempan, pada akhirnya Coutinho meninggalkan Liverpool usai menyetujui tawaran Barcelona seharga 142 juta pound sterling (sekitar Rp 2,4 triliun), dengan durasi kontrak selama 5,5 tahun.

Dan ternyata, Jurgen Klopp benar. Coutinho yang salah. Di Barcelona, pemain yang pernah dua kali menjebol gawang Indonesia dengan dua tim yang berbeda itu --Inter Milan (2012) dan tentu saja Liverpool (2013)--, gagal total.

Coutinho gagal menyandingkan diri secara level dengan Messi dan rekan-rekannya. Bahkan setelah Messi pergi dan bergonta-ganti pelatih, pun ketika dia harus dipinjamkan ke Bayern Munich, Coutinho tidak bisa menunjukkan penampilan terbaiknya.

Padahal waktu masih di Anfield, Philippe Coutinho adalah pemain penting. Bahkan mungkin langka untuk ukuran Liga Primer Inggris yang waktu itu masih begitu direct. Di Liverpool, dengan kemampuannya, Coutinho berhasil menjadi pemain nomor 10 yang jempolan. Pemain internasional Brasil tersebut piawai mengatur ritme permainan dan serangan, serta sering memecah kebuntuan dan memanfaatkan peluang dari lini ke dua. Namun sayangnya, seperti kebanyakan pemain asal Latin dan Amerika Selatan lainnya, silau salah satunya --Barcelona atau Real Madrid--, tidak mampu dilawan oleh Coutinho.

Sementara Liverpool, sepeninggal Coutinho justru setapak demi setapak mulai menunjukkan perkembangan positif. Secara permainan, kehilangan Coutinho justru memunculkan Trent Alexander Arnold yang berperan layaknya playmaker, walau beroperasi dari posisi bek sayap. Hasil penjualan Coutinho pun berhasil dimanfaatkan untuk mendatangkan Virgil Van Dijk, Mo Salah, dan Alisson Becker, yang pada akhirnya membuat The Reds kembali menemukan kebanggaannya.

Philippe Coutinho kualat.

Hingga pada akhirnya, pada jendela transfer musim dingin 2022 ini, Philippe Coutinho bereuni dengan Steven Gerrard di Aston Villa. Begitulah, sebagai pemain pinjaman, Coutinho akan menjadi anak asuh dari manajer baru Aston Villa, Steven Gerrard. Menarik.

Benar, karena seperti diketahui, keduanya pernah bekerja sama di penghujung karir Gerrard di Liverpool. Lebih menarik lagi, Liga Inggris yang telah membesarkan Coutinho, akan menjadi percobaan pembuktian kebangkitannya. Coutinho ingin meralat karirnya atas kesalahannya saat meninggalkan Liverpool waktu itu.

Peluang untuk itu cukup besar. Gerrard yang sudah paham bagaimana Coutinho bermain, tentu sudah punya rencana tersendiri untuknya. Sementara secara tim, kemampuan Coutinho jelas sangat diperlukan.

Menilik dari laga terakhir saat bertamu ke Old Trafford di ajang Piala FA, menghadapi tuan rumah Manchester United, Villa harus menyerah walau dengan skor tipis dengan kebobolan satu gol. Sempat menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola 57%, namun nyatanya hanya mampu mencatatkan shots (on gol): 3 (2). Sementara tuan rumah yang hanya punya 43 % penguasaan bola berhasil mengukir shots (on goal): 7 (5).

Dari catatan statistik itu menunjukkan bahwa Villa gagal mengkonversi besarnya tingkat penguasaan bola menjadi peluang untuk mencetak gol. Aston Villa kurang kreativitas dalam mengkreasi peluang, dan itu diharapkan akan datang seiring dengan kedatangan Coutinho.

Bagi Villa, peran Coutinho itu sangat dibutuhkan. Walau sejak ditangani Gerrard secara perlahan Villa mulai menunjukkan tren positif, tetap saja masih sulit bila harus bersaing dengan tim yang di atasnya, bahkan yang selevel. Kemudian walaupun berhasil menang, Villa juga tidak pernah bisa mencetak lebih dari 2 gol. Hal tersebut bisa jadi memang kurangnya pemain yang bisa berperan untuk menciptakan peluang. Dan sekali lagi, Coutinho bisa jadi adalah pilihan yang pas.

Untuk peran itu, secara di atas kertas dan berdasarkan rekam jejak mainnya, Coutinho jelas pemain yang tepat. Pengalamannya di Liverpool, serta kegagalannya di dua klub raksasa Eropa tentu mendatangkan motivasi besar pada dirinya.

Pekan ini, kembali menghadapi MU, patut ditunggu bagaimana aksi Coutinho bersama Aston Villa.