Sport

Evaluasi Putaran Pertama BRI Liga 1, Kompetisi Di Tengah Pandemi.

Hardiyanto 7 months ago 46.0

Kompetisi tertinggi sepakbola nasional sudah memasuki paruh musim. Semua tim peserta sudah melakoni 17 laga. Kompetisi kali ini memang unik. Berlangsung di tengah-tengah pandemi, kompetisi berjalan dengan sistem bubble. Seluruh tim peserta dikumpulkan di satu tempat yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Ini menjadi solusi terbaik. Jika kompetisi digelar dengan format normal, dikhawatirkan akan memicu kenaikan kasus Covid. Sejauh ini perjalanan kompetisi masih aman dari kasus Covid. Masih belum ada berita lonjakan kasus Covid yang dialami klub peserta. Semoga saja kondisi ini bertahan hingga akhir.

Sejauh ini empat tim bersaing menjadi juara. Persib Bandung, Bhayangkara FC, Arema FC dan Persebaya saling sikut untuk menjadi yang terbaik di gelaran kompetisi musim ini. Secara statistik, 380 tercipta dengan Persebaya menjadi tim tersubur (32 gol) dan Persiraja menjadi tim yang paling mandul (11 gol). Empat pemain bersaing menjadi top scorer. Ciro Alves (PS Tira-Persikabo), Ilija Spasojevic (Bali United), Marko Simic (Persija) dan Yousseff Ezzejjari (Persik Kediri) masing-masing sudah mencetak 12 gol. Diluar itu banyak hal menarik yang terjadi. Beberapa momen menarik akan dibahas di bawah ini.

Persaingan ketat antar tim peserta

Merujuk klasemen sementara, bisa kita lihat jika persaingan di BRI Liga 1 sangat kompetitif. Jarak poin antar tim begitu rapat. Hasil sebuah pertandingan bisa merubah posisi klub di klasemen. Di papan atas misalnya, jarak poin antara peringkat satu (Bhayangkara dan Persib) dengan peringkat empat (Persebaya) hanya berselisih 4 angka. Artinya sebuah kesalahan kecil akan dengan mudah mengubah konstelasi di klasemen. Persaingan menuju gelar juara masih terbuka lebar diantara empat tim (Bhayangkara FC, Persib Bandung, Arema FC dan Persebaya). Bukan tidak mungkin penahbisan tim terbaik akan berlangsung hingga pekan terakhir. Situasi tidak berbeda tersaji di papan bawah. PSM Makassar yang bertengger di posisi 12 (20 poin) hanya berselisih 6 angka dengan Persipura yang berada di tangga 17 klasemen (14 poin). Artinya ada enam tim yang harus beradu untuk bertahan di BRI Liga 1. Persaingan ketat antar tim juga tergambar dari bursa transfer putaran kedua. Bhayangkara FC yang mendatangkan Melvin Platje dari Bali United, Arema memboyong Fabiano Beltrame dan Sandy Sute, Makan Konate bergabung dengan Persija, Persib mendatangkan Bruno Caltahende dan Persiraja bahkan merombak tim dengan memboyong 14 pemain sekaligus. Putaran kedua akan menyajikan persaingan yang lebih panas lagi.

Tenggelamnya Persipura dan PSM Makassar

Ada kejutan yang kurang menyenangkan dari kompetisi musim ini. Dua tim dengan nama besar dan tradisi panjang mengalami kemunduran prestasi. Persipura dan PSM Makassar yang biasanya selalu bersaing di papan atas kali ini justru harus bersaing di papan bawah. Tidak lagi berebut trofi juara, keduanya sekarang bersaing untuk bisa bertahan di kompetisi level tertinggi. Hanya mengandalkan pemain muda minim pengalaman membuat keduanya sulit bersaing di papan atas. Pandemi Covid memberikan pengaruh besar bagi kondisi finansial dari keduanya. Melihat nama besar dan tradisi panjang PSM Makassar dan Persipura, sangat disayangkan jika salah satu atau keduanya harus jatuh ke Liga 2. Namun sejauh ini belum ada perubahan berarti dalam komposisi pemain dari kedua tim.

Kemunculan banyak pemain muda

Salah satu nilai positif dari kompetisi kali ini. Beberapa nama pemain muda muncul ke permukaan. Marselino Ferdinan (18 tahun), Ronaldo Kwateh (17 tahun) dan Ramai Rumakiek (19 tahun) adalah beberapa nama yang mencuat musim ini. Masih ada nama-nama lain seperti Beckham Putra (20 tahun), Tito Hamzah (20 tahun), Rio Fahmi (20 tahun) serta Nico Alfriyanto (18 tahun) yang mulai mendapat banyak menit bermain di klub. Ini jelas menjadi kabar baik bagi coach STY. Semoga saja para pemain muda ini terus mendapat kepercayaan bermain di klub. Skill dan mentalitas pemain muda ini akan terus terasah dan berkembangan menjadi lebih baik.

Dominasi striker asing

Situasi yang terus berulang dari musim ke musim. Lima besar top scorer BRI Liga 1 diisi oleh pemain asing. Hanya ada satu nama lokal, itupun statusnya adalah naturalisasi. Hal ini juga dikeluhkan oleh coach STY tentang minimnya penyerang berkualitas. Sejatinya hal ini tidak bisa dibebankan kepada kehadiran striker asing. Dominasi striker asing juga terjadi karena penyerang lokal kita memang kurang berkualitas. Bukan karena skill yang buruk, tetapi lebih karena mentalitas yang lemah. Banyak penyerang lokal yang punya skill mumpuni, namun tidak mampu bersaing karena masalah mentalitas. Saat ini striker lokal yang mampu bersaing justru nama senior seperti Samsul Arif. Penyerang berusia 36 tahun ini masih menjadi andalan di Persebaya. Kita tentu merindukan kehadiran kembali nama-nama Bambang Pamungkas, Ilham Jayakusuma ataupun Boaz Solossa.

Infrastruktur yang tidak merata

Merupakan salah satu gambaran besar sepakbola nasional. Harus diakui infrastruktur stadion yang berkualitas masih kurang di Indonesia. Untuk wilayah Jawa hal tersebut tidak terlihat. Namun situasi tersebut tergambar jelas di luar Jawa. Untuk seri awal putaran kedua ini misalnya. Digelar di pulau Bali dan menggunakan tiga stadion. Namun hanya stadion Kapten I Wayan Dipta yang representatif untuk kompetisi selevel BRI Liga 1. Dua stadion yang lain memiliki kualitas kurang baik, namun dipaksakan untuk menggelar pertandingan. Protes sudah dilayangkan oleh Persebaya. Ini harus menjadi perhatian bagi PSSI dan PT. LIB agar gelaran kompetisi berjalan lancar dan kualitas kompetisi tidak terganggu.

Secara umum putaran pertama berjalan dengan baik. Memang terdapat kekurangan disana-sini. Tetapi Bagaimanapun kita harus memberikan apresiasi kepada PSSI dan PT. LIB yang mampu menggelar kompetisi ditengah pandemi. Banyak ruang untuk perbaikan, dan itu harus menjadi perhatian bagi federasi dan operator liga. Tujuannya agar kompetisi berjalan lancar.