Sport

Dilema Pemain Keturunan dan Naturalisasi.

Hardiyanto 9 months ago 313.0

Hasil kurang memuaskan diterima oleh timnas Indonesia dalam pertandingan uji coba Selasa (16/11) malam. Bertanding melawan Afganistan, timnas Garuda kalah 0-1. Gol kemenangan Afganistan dicetak Omid Popalzay di menit 85. Hasil ini membuat rekor bertanding Indonesia semakin buruk. Dalam 15 laga terakhir, Indonesia hanya meraih 4 kemenangan dan 1 hasil imbang, 10 laga lainnya berakhir dengan kekalahan. Tidak heran jika dalam peringkat FIFA, kita terperosok di tangga 165. Hasil buruk inilah yang menyebabkan timnas Indonesia gagal melaju ke babak akhir kualifikasi Piala Dunia 2022. Melihat kondisi terkini, kita semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan Thailand, Malaysia ataupun Vietnam.

Secara kebetulan, kekalahan ini berbarengan dengan perdebatan tentang perlunya memanggil pemain keturunan dan naturalisasi ke dalam timnas Indonesia. Sebelum keberangkatan ke Turki untuk agenda uji coba, Shin Tae-yong sudah mengajukan 4 nama kepada PSSI untuk segera diurus perpindahan kewarganegaraan. Sandy Walsh, Kevin Diks, Mees Hilgers dan Jordi Amat dianggap coach STY cukup mampu mendongkrak kualitas tim nasional. Bersama dengan Elkan Baggott, keempatnya diharapkan membentuk benteng kokoh di lini pertahanan. Ya, secara kebetulan pula keempatnya plus Elkan Baggott berposisi sebagai bek. Diluar 4 nama tersebut sejatinya masih banyak pemain keturunan yang dianggap layak membela timnas. Agenda berikutnya yaitu Piala AFF dan Kualifikasi Piala Asia sudah semakin dekat dan target yang dibebankan cukup berat sehingga kehadiran pemain keturunan diharapkan membuat tim menjadi lebih kuat.

Tentang rencana PSSI memanggil pemain keturunan, hal ini menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Ada yang setuju, dan ada pula yang menolak. Fachry Husaini menjadi salah satu yang paling keras menyuarakan penolakan. Melalui akun media sosialnya, coach Fachry menyindir kebijakan tersebut. Memanggil pemain keturunan dan naturalisasi dianggapnya tidak mempercayai kualitas pemain lokal. Kebijakan tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa proses pembinaan pemain muda gagal menghasilkan pemain yang berkualitas. Mengenai hal ini coach Fachry layak untuk bersuara. Coach Fachry pernah menjadi pelatih timnas di level U-16 dan berhasil mengantarkan tim Garuda Muda U-16 menjuarai gelaran Piala AFF U-16 tahun 2018 silam.

Namun masyarakat kebanyakan justru sangat mendukung langkah coach STY tersebut. Melihat target yang dibebankan kepada timnas, mengandalkan pemain lokal saja tidaklah cukup. Juara Piala AFF dan lolos ke putaran final Piala Asia bukan hal yang mudah untuk diraih. Sejauh keikutsertaan Indonesia di gelaran Piala AFF (dulu Piala Tiger), Indonesia belum pernah sekalipun menjadi juara. Sedangkan untuk Piala Asia, terakhir kita ikut serta di tahun 2007 saat menjadi tuan rumah. Melihat hasil yang diraih timnas Indonesia belakangan ini, kita bahkan tidak lagi dianggap tim kuat. Bahkan di level Asia Tenggara saja kita sudah diremehkan. Vietnam misalkan, mengganggap kemenangan melawan Indonesia sebagai hal yang wajar. Sedangkan Malaysia menganggap kegagalan mengalahkan Indonesia menunjukkan ketidakmampuan untuk berprestasi.

Kenyataan yang harus kita terima adalah kualitas pemain lokal kita memang jauh tertinggal, bahkan jika kita membandingkan rival terdekat kita seperti Vietnam, Thailand ataupun Malaysia. Pemain lokal kita memiliki banyak kelemahan. Stamina yang rendah, skill dasar yang lemah, kurangnya pemahaman taktik dan mental yang buruk merupakan gambaran pemain lokal. Terbaru, coach STY mengeluhkan kualitas passing pemain lokal. Bayangkan pemain level timnas masih salah dalam hal teknik dasar mengumpan. Hal itu tergambar dalam laga uji coba melawan Afganistan dimana masih banyak kesalahan passing dari pemain. Gol yang dicetak lawan pun berawal dari kesalahan passing. Biasanya hal ini terlihat kala timnas bertanding melawan tim dengan gaya permainan pressing ketat. Pemain yang tampil paling baik adalah Elkann Baggott, pemain keturunan yang bermain untuk tim junior Ipswich Town di Inggris.

Pemanggilan pemain keturunan tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Kita harus melihatnya dari gambaran yang lebih luas. Pemanggilan pemain keturunan harusnya jadi momen perbaikan. Pemain lokal harus tertantang untuk memperbaiki diri. Mental bersaing harus tumbuh, jangan hanya terlena dengan zona nyaman. Apa yang diperlihatkan Egy, Witan, Asnawi atau Bagus Kaffi layak untuk dicontoh. Keberanian mereka mengambil tantangan berkarir di luar negeri menjadi cara untuk meningkatkan kualitas diri. Sejauh ini lebih banyak pemain lokal yang terlena dengan zona nyaman. Nyaman berkarir di Indonesia, mendapat gaji besar serta populer di media sosial. Namun mereka jelas tidak bisa mengembangkan diri. Kurangnya tantangan secara tidak langsung membuat pemain lokal kurang berkembang. Sederhananya, jika bermain di dalam negeri mereka pasti masuk dalam starting eleven, namun jika bermain di luar negeri mereka harus bersaing lebih keras untuk masuk menjadi pemain utama. Dengan sendirinya persaingan itu menguji mental. Itu yang tidak dimiliki pemain lokal.

Pemanggilan pemain keturunan bukannya tidak percaya pada proses pembinaan dalam negeri. Namun perlu diakui bahwa kualitas pemain lokal kita masih rendah. Itulah faktanya. Namun memanggil pemain keturunan juga tidak menjadi satu-satunya solusi. Pembinaan dan kompetisi lokal perlu diperbaiki. Keduanya harus beriringan. Dengan begitu prestasi sepakbola kita akan kembali naik.