Spiritual

Ferdy Sambo, Pembunuhan, Keadilan dan Ketentraman.

Bagong Setya a month ago 731.0

Segitiga Harta, Tahta, dan Wanita sekali lagi terbukti dalam sejarah mewarnai peradaban manusia. Kombinasi duit, kekuasaan dan lendir yang keluar dari badan manusia benar-benar dapat memicu fantasi, imajinasi, motivasi hingga menjadi modus operandi dalam siasat pembunuhan yang keji.

Dari raja, jenderal, hingga preman terlukiskan secara nyata dalam tulisan "Ferdy Sambo Pakai Glock 17, Ken Arok Pakai Keris Mpu Gandring, Ternyata Ini Soal Air".

Peristiwa pembunuhan dengan lakon Ferdy Sambo yang tengah memasuki proses hukum ini bukanlah kisah pembunuhan satu-satunya di negeri ini.

Republik ini telah menjadi panggung pagelaran tragedi pembunuhan dan penumpahan darah yang tak kalah heboh dan menyita perhatian publik.

Kisah Petrus

Penembakan misterius atau sering disingkat "Petrus" adalah suatu operasi rahasia pada masa Pemerintahan Soeharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu.

Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah.

Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus" (penembak misterius). sumber

Masalah Petrus waktu itu memang jadi berita hangat, ada yang pro dan kontra, baik dari kalangan hukum, politisi sampai pe­megang kekuasaan. Amnesti Internasional pun juga mengirimkan surat untuk menanyakan kebijakan pemerintah Indonesia ini.

Saat itu gali-gali atau preman-preman yang umumnya bertato, sangat ketakutan dan ramai-ramai menghapus tato di badan, agar tak menjadi target "petrus". Tingkat kejahatan menurun dan pelaku kejahatan ciut nyalinya, terjadi efek jera. Bagi masyarakat juga merasa lebih tenteram.

Berbeda dengan kasus Ferdy Sambo dimana otak pembunuhan adalah jenderal polisi, sementara korban adalah ajudannya sendiri serta menimbulkan kegaduhan nasional yang hingga kini telah berlangsung sebulan lebih.

Peristiwa "petrus" berjalan dengan rapi dan tak bernah terungkap ke publik dan siapa pelakunya tak pernah menjalani proses hukum.

Siapa pelakunya masih tersimpan rapi meski korbannya jelas adalah para kriminal, penjahat yang meresahkan masyarakat, yang mengalami vonis mati tanpa melalui sistem peradilan di republik +62 ini. sumber

Kisah Lapas Cebongan

Penembakan Cebongan adalah peristiwa penembakan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 23 Maret 2013.

Empat korban tewas merupakan pelaku tindak kriminal pengeroyokan seorang anggota Kopassus bernama Heru Santosa hingga tewas di Hugo’s Café beberapa hari sebelumnya.

Peristiwa pembalasan nyawa ganti nyawa ini dikerjakan oleh Serda Ucok Tigor Simbolon bersama beberapa rekan anggota Kopassus untuk membalaskan dendam atas kematian almarhum Serka Heru Santoso.

Pada kasus Ferdy Sambo, jenderal membunuh ajudan dengan motif yang belum diungkap ke publik, namun kabarnya tak jauh dari soal asmara. Pada peristiwa Cebongan, tentara terlatih membunuh pelaku kriminal yang lebih dulu membunuh tentara yang dipersiapkan untuk bertugas melindungi negara, diperuntukkan sebagai kombatan melawan musuh bangsa. Yang dibunuh adalah penjahat yang lebih dulu membunuh aset bangsa.

Sama seperti peristiwa "petrus" yang memicu pro dan kontra di masyarakat, demikian pula pada kasus Cebongan ada yang pro ada yang kontra. Tetapi, Serda Ucok telah mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum militer dan menjalani masa hukumannya selama 8 tahun dari vonis 11 tahun.

Belum ada penelitian yang saya temukan yang meneliti efek jera pada para pelaku kriminal setelah menyimak kasus ini, tetapi bisa diduga penjahat ciut nyalinya kalau mau macam-macam dan berurusan dengan tentara, khususnya Kopassus.

Napiter Bom Bali Umar Patek, Bakal Bebas

Tak ketinggalan kasus pembunuhan keji yang terjadi di Indonesia, kali ini pelakunya teroris dengan korban wisatawan di Bali.

Dikabarkan, Umar Patek, napi teroris terpidana 20 tahun akan segera bebas bersyarat di bulan Agustus 2022, bila mendapat remisi dan sudah menjalani 2/3 masa tahanan. sumber

Tidak main-main, sekali hantam Tragedi Bom Bali I merengut 202 jiwa melayang serta 209 orang luka-luka. Selain warga lokal, ledakan Bom Bali tersebut juga merenggut nyawa dari kalangan turis yang berasal dari 21 negara. sumber

Poin untuk dicatat

Empat kisah pembunuhan ini mempunyai kesamaan, antara lain

Jadi berkaca pada proses peradilan negeri +62 terhadap pelaku pembunuhan yang tidak dihukum mati sama seperti matinya korban-korban mereka, maka tidak keliru amat bila diduga kisah pembunuhan terkini, Ferdy Sambo pun akan bebas di ujung episodenya nanti.

Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, bisa menerima atau tidak bisa menerima, itulah wajah nyata keadilan di negara +62 hingga saat ini, yang merupakan buah hasil kerja dari sistem peradilan yang menyeluruh mulai dari Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim, hingga DPR yang membuat dan mengesahkan Undang-undang.

Dibutuhkan gotong royong yang kompak dari semua pihak demi keadilan yang semakin baik terwujud di Indonesia mendekati idealnya seperti Sila 2 Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Menuju kepada kemanusian yang lebih beradab, tak keliru bila mempelajari falsafah Jawa yang dijabarkan dan dijalankan oleh pak Jokowi, manusia Indonesia tulen yang adalah Presiden Republik Indonesia. Barangkali ini masih berada dalam jangkauan dan lebih membumi untuk kita teladani, begini bunyinya:


xSVGKHJZV2o

Yang diperlukan rakyat sebenarnya sederhana yaitu keadaan yang aman dan tenteram, sehingga bisa menjalani hidup yang sejahtera sembari bekerja keras dan cerdas lewat pekerjaan yang baik dan benar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, mulai dari pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan aktualisasi diri.

Semoga Indonesia semakin baik ke depannya

Catatan:

Lamun sira sekti, ojo mateni. Meskipun kamu sakti, jangan sekali-kali menjatuhkan.

Ini adalah terjemahan yang sudah diperhalus dan diperdalam maknanya oleh pak Jokowi, secara umum artinya adalah kalau anda sakti jangan dipakai untuk membunuh, jangan untuk menyakiti, jangan untuk menindas. sumber