Spiritual

Antara Tuhan, Janda dan Cabe.

Bagong Setya 2 days ago 723.0

Halo teman-teman pembaca Seword

Terima kasih atas kejodohannya dengan saya, sehingga Anda masih membaca tulisan saya. Sambil membaca silahkan nikmati lagu Cucakrowo berikut ya...

Kucoba-coba melempar manggis

Manggis ku lempar, mangga ku dapat

Ku coba-coba melamar gadis

Gadis ku lamar janda ku dapat


1qvA9OOs4HQ

Kali ini saya ingin berbagi kisah tentang janda atau bahasa kerennya kita sebut "single mom" atawa "single parent".

Entah mengapa, sejak dua tahun yang lalu saat saya mulai merintis usaha baru setelah terkena PHK dan sempat menganggur, manakala saya memasang lowongan "dibutuhkan tenaga administrasi toko" maka yang datang kepada saya adalah wanita yang kebetulan statusnya adalah janda atau "single mom".

Sementara ada juga yang masih jomblo, tetapi dengan berjalannya waktu pada berhenti karena kurang ulet dan tidak bisa menyesuaikan dengan irama sebuah bisnis yang sedang dalam tahap awal perintisan. Dari sini saya belajar bahwa karyawati yang berstatus janda jauh lebih ulet dan bisa diatur sesuai kondisi perusahaan yang sedang dalam tahap perintisan.

Suatu hari sekitar jam tiga-an, saya sedang bekerja di depan laptop sementara asisten toko saya, yang janda itu, sebut saja namanya Bunga sedang sholat di ruang tengah. Memang berdoa kepada Tuhan adalah cara yang biasa dipakai oleh manusia ketika menghadapi persoalan hidup.

Sementara saya bekerja di depan laptop, tiba-tiba saya dengar Bunga menangis sambil menerima telpon. Ternyata itu telpon dari anak perempuannya yang menelpon dari rumah sakit bagian jiwa, yang mengancam mau bunuh diri kalau tidak dijemput oleh Bunga. Ringkas cerita anak perempuan Bunga memang menderita gangguan mental yang disebut bipolar dan ngotot minta dijemput karena ga mau opname lama-lama di rumah sakit.

Langsung saya berlari ke lantai satu memanggil ibu Dinda, asisten toko yang lebih senior untuk menenangkan Bunga. Lah kalau saya yang menenangkan khan bisa berbahaya...

Maka selanjutnya setelah selesai jam kantor, saya, Dinda dan Bunga menjenguk anaknya di rumah sakit. Bunga sudah rada tenang kerena teman-teman kerjanya ikut mendampingi dia, sambil di jalan saya sok bijak menasehati demikian,

Ya orang hidup itu isinya ya kadang ketemunya masalah, kadang ketemu kemudahan dan keberuntungan. Tapi kalau kita bisa mengibaratkan masalah seperti cabe yang memang pedas, tapi toh lama-lama hilang pedasnya, ya kita bisa jalani hidup ini lebih ringan.

Ending episode satu ini pun berlangsung baik, akhirnya Bunga bertemu anaknya dan dokter yang merawat dan setelah seminggu di rumah sakit anaknya bisa pulang dan sudah bisa hidup normal.

Seminggu yang lalu, ketika toko lagi rada sepi, saya sempat berbincang dengan Bunga. Kali ini wajahnya berseri-seri. Mengapa? Ya karena dia sedang mengisahkan bahwa dirinya sekarang sedang pacaran dengan seorang duda beranak dua yang baik, yang sesuai dengan harapannya.

Seru juga mendengar kisah asisten tokoku yang unik, ada duka, ada sukanya. Tapi ya itulah kehidupan, di tengah siklus suka, duka, lara, pati, lahir, tua, sakit, mati, kita akan banyak berjumpa peristiwa. Bila sedang berjumpa peristiwa yang kurang enak, anggap saja itu cabe-cabe kehidupan, yang memang pedas, tapi itulah sebagian dari nikmatnya kehidupan, senikmat makan tahu goreng pakai cabe.