Politik

Ya Iya Lah, Ternyata Ini Penyebab IKN Tidak Bisa Menarik Investasi Asing.

Xhardy 18 days ago 973.0

Kepala Otorita IKN Bambang Susantono mengundurkan diri, dan yang lebih mengejutkan adalah, wakil kepala otorita sudah duluan mengundurkan diri.

Bayangkan, gaji dan tunjangan seorang Kepala Otorita IKN itu bukan main-main. Gaji pokok plus tunjangan keluarga, tunjangan kinerja, tunjangan jabatan, totalnya Rp 172 juta. Untuk wakil kepala otorita total gaji plus tunjangan Rp 155 juta. Dengan gaji setinggi itu, sulit untuk mengundurkan diri kalau tidak ada sesuatu. Logikanya, mungkin ada satu resiko yang tidak sepadan dengan gaji yang didapatkan. Saya tidak tahu apa persisnya, karena sampai saat ini polemik pengunduran diri keduanya masih ada banyak misteri.

Kalau menurut versi Luhut, dia bilang mundurnya Bambang ada kaitannya dengan kinerja yang kurang becus. Secara undang-undang kepala otorita bisa membuat keputusan apapun. Luhut mengaku tidak mau membuka aib orang, tapi ini menyangkut leadership, ketidakmampuan mengambil keputusan dan resiko. Ada sesuatu yang seharusnya bisa lebih cepat diselesaikan, tapi karena tidak berani ambil keputusan, maka tidak selesai-selesai.

Kemudian ketika ditanya, apakah ini ada kaitannya dengan pembebasan lahan di IKN, Luhut tidak membantah. Pembebasan lahan di IKN tidak berjalan sesuai harapan padahal itu tanggungjawab kepala otorita IKN. Kata Luhut, sebagai pemimpin, sudah punya kewenangan, harus berani ambil resiko. Luhut sampai kesal dengan masalah ini.

Jadi sebenarnya sudah kelihatan jelas masalah utama dari IKN yaitu pembebasan lahan yang tidak sesuai harapan, sehingga investor asing malas masuk IKN. Status lahan tidak jelas, tidak akan ada yang mau masuk dan begitu saja aja mengucurkan modal triliunan.

Dan sebagai penggantinya Jokowi menunjuk Plt Kepala Otorita yaitu Menteri PUPR Pak Basuki dan Plt wakil kepala otorita Raja Juli Antoni yang juga wakil menteri ATR/BPN. Tugas mereka adalah mengurus pembebasan lahan dan investasi di IKN. Nantinya akan diputuskan status tanah di IKN ini apakah akan dijual, disewa, atau skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Kalau tidak segera dibereskan, maka investasi asing tidak akan masuk. Mereka butuh kejelasan soal status tanah.

Proyek di IKN dibiayai oleh APBN sebesar 20 persen dan 80 persen sisanya dari investasi luar. Kalau tidak ada investasi dari luar, ini bahaya. Ada dua kemungkinan.

Yang pertama terpaksa mengorbankan APBN lagi. Yang sekarang aja sudah bikin APBN terasa berat, apalagi mau ditambahkan lagi untuk menutupi investasi luar yang tidak masuk. Ujung-ujungnya ekonomi negara makin berat, rakyat makin terjepit.

Yang kedua, kalau tidak ada investasi dan tidak bisa pakai APBN, maka IKN bisa mangkrak. Dan ini lebih fantastis daripada Hambalang. Tapi semoga saja jangan sampai terjadi.

Saya paham, presiden pasti pusing dengan situasi saat ini. Apalagi mundurnya dua kepala otorita IKN sudah sampai di luar negeri. Beberapa media asing sudah memberitakan kabar ini. Kemunduran mereka jelas sekali membuat banyak orang bertanya-tanya. Ini bisa menjadi image yang tidak baik. Ibarat sebuah perusahaan ditinggalkan oleh dua pemimpin dalam waktu berdekatan, yang ada di benak banyak orang adalah, pasti ada masalah.

Ini bisa membuat image IKN jadi kurang bagus di mata masyarakat dan dunia internasional. Pemerintah pasti makin pusing gimana mau meyakinkan investor padahal di sisi lain kepala otorita malah mundur. Mereka akan bertanya why, dan biasanya jawabannya akan tidak baik. Dampak ini bisa meluas dan bisa berefek pada IKN.

Pemerintah harus segera melakukan sesuatu, segera dan cepat atau semuanya terlambat. Jangan sampai image IKN jadi jelek di mata investor sehingga tidak lagi terlihat seksi.

Dari sini, kita sudah bisa menilai bagaimana cara pemerintah berusaha menarik investasi asing. Dari contoh IKN ini saja, prosesnya lama dan tidak ada kejelasan soal lahan. Padahal sudah bertahun-tahun IKN ini dibangun, tapi tetap saja lahan tidak beres. Ini sejalan dengan bukti bahwa investor asing lebih memilih negara tetangga ketimbang Indonesia.

Kemampuan Indonesia untuk menarik investasi, masih kurang oke. Ditambah lagi banyak masalah seperti birokrasi, pungli, korupsi dll yang membuat investor ragu. Saya dari dulu sudah katakan, kalau mau Indonesia seksi di mata investor, kalau mau Indonesia duduk manis dan investor yang datang sendiri, tidak ada cara lain selain basmi koruptor, berantas pungli dan permudah birokrasi semudah membalikkan telapak tangan. Kalau tidak beres, jangan harap bisa bersaing dengan negara lain. Lihat saja Apple lebih suka investasi di Vietnam. Google lebih suka investasi besar di Malaysia. Begitu juga Microsoft yang investasi di Malaysia lebih besar dari Indonesia. Tesla sampai saat ini masih ragu investasi di sini.

Bagaimana menurut Anda?