Politik

Perbandingan Koalisi Gondangdia Dan KIB Dalam Memilih Capres.

Adin a month ago 851.0

Sampai saat ini koalisi yang terbentuk secara resmi baru Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang beranggotakan Partai Golkar, PAN dan PPP. Jika dilihat dari perolehan suara Partai Golkar akan dominan karena perolehan suara yang jauh lebih besar dari PAN dan PPP.

Isu akan terbentuknya koalisi Semut Merah yang beranggotakan PKB dan PKS kemudian Partai Demokrat perlahan memudar. Karena baru-baru ini PKB bersilaturahmi dengan Partai Gerindra. Seminggu yang lalu Muhaimin Iskandar mengunjungi kediaman Prabowo Subianto.

Di pihak lain, seakan tidak mau kalah, takut hanya diberi harapan palsu, PKS dan Partai Demokrat mengadakan silaturahmi politik dengan Partai Nasdem. Saya kira PKS, Partai Demokrat lebih memungkinkan untuk berkoalisi dibandingkan dengan PKB.

Partai NasDem, Partai Demokrat, PKS akan menjalin kerja sama dalam bentuk Koalisi Gondangdia dan mengusung Anies Baswedan sebagai capres. Koalisi ini dinilai lebih mudah, lebih cair dalam menentukan Capres karena ketiganya merupakan partai setara tidak ada yang dominan.

Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang memiliki partai dominan akan sulit memberi ruang terhadap kandidat nonparpol atau luar parpol. Partai Golkar lebih dominan di KIB. Sehingga pembicaraan koalisi lebih dipengaruhi oleh Golkar.

Blok koalisi KIB tidak seimbang, ada Golkar yang dominan sehingga pembicaraan koalisi sangat dipengaruhi oleh Golkar. Potensi mencalonkan nonpartai lebih terbatas dan lebih sulit. Apalagi Partai Golkar sudah memutuskan untuk mendorong Ketua Umum mereka menjadi Capres di Pilpres 2024 nanti.

Masalahnya sampai saat ini Ketua Umum Partai Golkar yakni Airlangga Hartarto, elektabilitasnya sangat rendah. Kondisi ini tentu sangat beresiko jika dipaksakan maju sebagai Capres.

Di sisi lain koalisi Gondangdia relatif lebih seimbang. Koalisi ini membuka ruang bagi tokoh di luar parpol. Blok koalisi yang diisi oleh partai-partai yang perolehan kursi di DPR seimbang atau relatif seimbang, biasanya terbuka mencalonkan calon dari luar partai. Supaya efek pencalonan merata pada semua partai tidak hanya kepada salah satu partai saja.

Partai NasDem percaya diri memunculkan Anies Baswedan sebagai calon karena Partai Nasdem berpikir nama Anies akan mudah diterima oleh partai seperti Partai Demokrat dan PKS.

Kandidat nonpartai dapat menjadi titik temu di antara partai politik menengah. Kandidat nonparpol relatif menjadi solusi yang lebih dapat diterima di tengah kebuntuan negosiasi partai-partai. Apalagi jika partai politik anggota koalisi tidak mempunyai figur yang mempunyai elektabilitas tinggi dan layak maju sebagai Capres.

KIB harus segera memilih Capres yang tepat jangan hanya menunggu adanya partai baru yang bergabung dan membawa Capres yang memadai. Jika tidak, bukan tidak mungkin KIB akan kehabisan pilihan dan terpaksa mendorong Capres yang sebenarnya kurang layak maju di Pilpres 2024.

Begitu kira-kira.