Politik

Pada Dasarnya Puan dan AHY Sama Saja.

Fery Padli 5 days ago 1.1k

Sebagai partai pemenang Pemilu dan partai berkuasa, PDIP memang memiliki privilege atau hak istimewa. Diantaranya adalah partai ini satu-satunya Parpol yang bisa mencalonkan pasangan presiden dan wakil presiden tanpa perlu berkoalisi dengan partai manapun.

Karena perolehan suaranya di Pemilu 2019 lalu melebihi ambang batas presidential threshold 20 persen.

Itulah kenapa sekarang PDIP gak terlalu ngotot cari koalisi seperti PKB.

Nah, sebenarnya ada satu kader partai yang potensial untuk diusung sebagai Capres oleh PDIP ini yakni Ganjar Pranowo.

Pertanyaannya, kenapa Ganjar?

Karena si Gubernur Jateng tersebut memiliki elektabilitas yang cukup tinggi. Ia selalu menempati posisi 3 besar berdasarkan hasil survei. Bahkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Poltracking pada 1-7 Agustus 2022 lalu, Ganjar berada di urutan pertama dengan elekttabilitas mencapai 26,6 persen. Mengalahkan Prabowo dengan elektabilitas 19,7 persen dan Anies 17,7 persen.

Tapi yang terjadi justru si Ganjar ini malah hendak disingkirkan oleh PDIP. Seperti yang terjadi pada acara pembukaan pameran foto esai Marhaen dan foto bangunan cagar budaya di kantor DPP PDIP Jateng yang dihadiri oleh Puan pada Mei 2021 lalu.

Di acara itu seluruh kepala daerah di Jateng dari PDIP diundang kecuali Ganjar.

Segitunya. Padahal lokasi acaranya di Semarang yang notabene wilayah kekuasaan Ganjar.

Lalu kenapa Ketua Keluarga Alumni UGM itu seperti kader yang tidak dianggap oleh DPP PDIP?

Alasannya sederhana, karena dia merupakan ancaman bagi Puan yang juga bernafsu pengen jadi Capres.

Kita perhatikan saja apa yang dilakukan oleh Puan belakangan ini. Kegiatannya politis banget. Bahkan terkesan melakukan pencitraan berlebihan. Seperti menyebarkan baliho 'Kepak Sayap Kebhinekaan' di seluruh wilayah Indonesia.

Dan kalau dihitung dana yang dihabiskan untuk bikin baliho gede-gede itu bisa mencapai puluhan miliar rupiah.

Tapi hasilnya, bisa dibilang tidak ada sama sekali. Karena bagaimana mau tertarik mendukung Puan kalau arti 'Kepak Sayap Kebhinekaan' itu saja orang tidak tahu?

Yang ada malah tulisan di baliho itu diledek oleh netizen.

"Kepak Sayap Kebonekaan," ujar pemilik akun instagram @adjisdoaibu.

Kemudian ada juga yang memplesetkannya menjadi kepak sayap kerinduan, kepak sayap kenikmatan, kepak sayap kemenangan dan kepak sayap keterpurukan. Kwkwkwk

Eh sudah jelas dirinya gak laku alias kurang disukai masyarakat, Puan masih juga ngotot hendak menjadi Capres/Cawapres.

Belakangan ini yang dia lakukan adalah terus melakukan pencitraan dan menggalang dukungan. Seperti pada November 2021 lalu Puan ikut hujan-hujanan menanam padi bersama petani di Sleman Yogyakarta.

Kemudian, pada Agustus 2022, ia ikut menanam singkong bersama petani di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Di samping itu, Puan juga pernah ikut menanam bawang merah di Kabupaten Brebes, Jateng bersama puluhan petani bawang di sana.

Jadi terlihat kalau dirinya berusaha mengambil ceruk suara yang berbeda dengan Capres lainnya. Kalau Prabowo mendekati kalangan Nahdliyin untuk mendapatkan dukungan dan Anies mendekati kelompok radikal (eks FPI dan PA 212), sementara si Puan ini berusaha mendekati petani.

Dan ia juga pernah berkunjung ke rumah kediaman Prabowo. Hingga diajak berkuda bareng oleh Om Prab di sana.

Tapi apa hasilnya?

Yang ada malah bikin Cak Imin kecewa. Karena PKB sudah lebih dulu membangun koalisi dengan Gerindra dengan harapan Ketua umum partai itu bisa menjadi Cawapres Prabowo.

Sementara Puan, tetap saja jadi Capres/Cawapres yang tidak diinginkan. Baik oleh kader PDIP sendiri maupun oleh masyarakat.

Nah, kalau diperhatikan kondisi Puan ini sama dengan AHY.

Pertama, keduanya sama-sama anak mantan Presiden RI. Tentu di hati kedua orang tuanya ingin melanjutkan regenerasi atau berusaha untuk memberikan kursi presiden yang ditinggalkannya tersebut kepada anaknya.

Atau dengan kata lain baik SBY maupun Megawati lebih memilih mengusung anaknya sendiri daripada orang lain.

Kedua, sama-sama tidak punya rekam jejak yang bisa dijadikan modal untuk nyapres. Seperti Puan meskipun beberapa kali menduduki jabatan publik, coba jawab pertanyaan berikut ini. Apa prestasi dia yang paling melekat di hati masyarakat Indonesia?

Susah untuk menjawabnya. Karena memang tidak ada ferguso.

Begitupun dengan AHY. Tidak ada satupun ide atau gagasan dia yang dijadikan pedoman oleh warga plus 62 dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Yang ada malah ia pernah kalah jadi Cagub DKI, terpilih jadi Ketum partai berkat lobi-lobi yang dilakukan bapaknya serta gak tahu diri banget.

Pertanyaannya kenapa gak tahu diri? Lha jadi gubernur saja ditolak oleh masyarakat kok. Terbukti dengan tidak terpilih. Bagaimana mau jadi presiden?

Terakhir atau ketiga, keduanya sama-sama menjadi beban partai.

Baik Puan maupun AHY sama-sama ngebet pengen berkuasa namun hanya bermodalkan pengaruh orang tuanya saja. Sementara modal lain seperti elektabilitas tidak punya, jaringan lemah, pengikut tidak punya serta logistik juga pas-pasan.

Dan kalau kedua orang ini dipaksa nyapres juga, ujung-ujungnya partainya yang rusak. Terpilih jadi presiden tidak, malah PDIP tidak lagi jadi partai pemenang Pemilu serta Partai Demokrat yang awalnya berada di posisi ke-7 menjadi partai gurem alias tidak masuk parlemen.

Pada akhirnya, kalau keduanya mau jadi pahlawan bagi partai atau penyelamat partai cukup tahu diri saja alias gak usah nyapres.