Politik

Ngakak, Partai Demokrat Sibuk Pencitraan, Eks Kadernya Wanita Emas Malah Dicyduk Kejagung.

Fery Padli 2 days ago 2.7k

Sejak Pemilu 2014, perolehan suara Partai Demokrat terus turun. Dan menurunnya itu bukan menurun kaleng-kaleng, melainkan menurun secara drastis.

Bayangkan saja, pada Pemilu 2009 partai ini memperoleh kursi di DPR sebanyak 26,4 persen. Gede banget. Segede gaban.

Dengan perolehan suara sebesar itu tanpa berkoalisi dengan partai manapun, Partai Demokrat bisa mengusung Capres dan Cawapres sendiri. Karena sudah melebihi ambang batas presidential threshold 20 persen.

Itulah kenapa pada 2013 partai ini pede menggelar konvensi. Yakni mencari serta menyeleksi siapa Capres yang akan diusung pada Pilpres 2014.

Adapun salah seorang pesertanya kala itu adalah Anies Baswedan.

Dan konvensi tersebut akhirnya dimenangkan oleh Dahlan Iskan.

Eh sunggu diluar dugaan, perolehan suara Partai Demokrat pada Pemilu 2014 hanya 10,19 persen.

Tidak pelak, Dahlan pun batal diusung sebagai Capres lantaran partai tersebut gagal memperoleh suara yang cukup.

Mirisnya, pada Pemilu 2019 perolehan suara partai ini tinggal menjadi 7,77 persen saja.

Artinya apa? Kalau tidak membuat gebrakan yang luar biasa, bisa saja perolehan suara Partai Demokrat menjadi di bawah 4 persen pada Pemilu 2024 mendatang.

Inilah yang ditakuti oleh pengurus beserta kader partai tersebut sebenarnya, yakni menjadi partai gurem alias tidak lolos ke parlemen.

Apalagi beberapa waktu ini Partai Demokrat diterpa banyak prahara. Mulai dari beberapa kadernya terjerat kasus korupsi. Seperti Abdul Gafur Masud (Bupati Penajam Paser Utara), Ricky Ham Pagawak (Bupati Mamberamo Tengah), Nur Afifah Balqis (Bendahara umum DPC Demokrat Balikpapan) dan yang terbaru Lukas Enembe (Gubernur Papua).

Ternyata katakan tidak pada (hal) korupsi masih jalan terus. Kwkwkwk

Menariknya, Nur Afifah Balqis mencetak rekor sebagai koruptor termuda di Indonesia.

Apakah ini yang disebut koruptor milenial? Hehehe

Ternyata kalau kader Partai Demokrat sudah bikin rekor, gak tanggung-tanggung.

Koruptor termuda di negara plus 62.

Jadi, selain harus membuat gebrakan yang extraordinary, dalam waktu yang singkat ini yakni sekitar 2 tahun saja, AHY juga mesti memperbaiki citra Partai Demokrat yang sudah terlanjur hancur serta memastikan tidak ada lagi kader partainya yang korupsi hingga Pemilu 2024 mendatang.

Karena ketika ada kader yang tercyduk KPK, sedikit banyak akan mempengaruhi citra partai tempat si kader tersebut bernaung. Yang ini dibuktikan oleh Partai Demokrat sendiri. Yang mana perolehan suaranya mulai menurun pasca kadernya melakukan korupsi berjamaah kala itu.

Mulai dari Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, hingga M Nazaruddin kompak melakukan korupsi.

Lantas, gebrakan seperti apa yang dibuat oleh AHY dalam rangka menaikkan citra Partainya tersebut?

Ini yang agak prihatin sebenarnya. Dia sibuk melakukan pencitraan tapi bukan citra dirinya atau citra Partai Demokrat yang dinaikkan, tapi malah citra SBY.

Diantaranya yang paling kentara pernyataan AHY memuji bapaknya sendiri tersebut adalah "80 persen proyek infrastruktur yang ada saat ini dibangun oleh SBY, sementara Jokowi tinggal gunting pita saja,".

Kasihan melihat Pak Bas (Basuki Hadimuljono) sebenarnya, melihat klaim AHY ini. Karena dia kerja keras banget dalam rangka memastikan proyek infrastruktur tidak ada yang mangkrak, eh pencapaiannya itu malah dikatakan milik SBY.

Padahal yang asli atau proyek yang benar-benar milik SBY itu adalah Wisma Atlet Hambalang yang kini berubah menjadi candi.

Tidak pelak, Partai Demokrat pun jadi bulan-bulanan warga dunia maya dan PDIP. Yang kita tahu sendiri bahwa militansi kader PDIP terhadap partainya jauh lebih besar daripada militansi kader Partai Demokrat terhadap AHY.

Artinya apa? Strategi menaikkan citra partai ala AHY itu bisa dibilang salah langkah alias gagal. Sudah bisa dipastikan elektabilitasnya dan elektabiltas Partai Demokrat tidak akan naik.

-o0o-

Eh sekarang muncul masalah baru lagi yakni mantan kader Partai Demokrat yang juga dijuluki si 'wanita emas', Hasnaeni Moein ditangkap Kejagung lantaran korupsi penyelewengan penggunaan dana PT Waskita Beton.

Dan menurut Kejagung total kerugian negara akibat ulah mantan anak buah SBY dkk itu mencapai Rp 2,5 triliun.

Gila........ Gede banget.

Namun ketika ditangkep pakek drama pula. Hasnaeni terlihat memakai kursi roda saat hendak digiring ke mobil tahanan milik Kejaksaan.

Bisa jadi sebelumnya orang ini pura-pura sakit supaya gak ditangkep gitu. Mencontoh Roy Suryo yang juga mantan kader Partai Demokrat.

Hanya saja, dramanya itu gak ngaruh apa-apa terhadap institusi Kejaksaan. Terbukti Hasnaeni tetap saja dimasukkan ke mobil tahanan. Hingga ia menangis histeris tidak menyangka dirinya bakal masuk penjara.

Mungkin dia kira Jaksa itu bodoh kali ya. Bisa dibodohi pake drama pura-pura sakit. Padahal faktanya mereka tahu banget mana tersangka yang pura-pura sakit dan mana yang sakit benaran.

Lantas, apakah kelakuan wanita emas yang berubah menjadi wanita maling itu berpengaruh terhadap Partai Demokrat?

Ya barang tentu....

Citra Partai Demokrat sebagai partai penghasil koruptor akan semakin kental. Sekental susu kental manis.

Di samping itu, orang juga akan mikir seribu untuk memilih partai ini. Karena jangankan kadernya, mantan kadernya saja korupsi.