Politik

Menolak Berjabat Tangan, Apakah Boleh Capres Searogan Itu?.

Widodo SP 7 months ago 1.5k

Konon katanya, kalau mau melihat atau menilai karakter seseorang itu, cermatilah reaksi spontan yang ditunjukkan oleh orang tersebut dalam situasi biasa, spontan, alias yang tidak dibuat-buat atau istilah sekarang bukan settingan. Orang yang diamati biasanya tidak sempat berpikir lama sehingga reaksi spontan yang muncul lebih dominan dipengaruhi oleh sifat asli atau karakter dari orang tersebut, yang mungkin akan mengejutkan karena tidak seperti biasanya.

Nah, belum lama ini media online, diikuti media sosial ramai membahas soal arogansi Prabowo Subianto yang tertangkap kamera menolak untuk berjabat tangan setelah menerima sesuatu dari seorang pria di hadapannya. Dalam acara resmi itu, sosok pria sosok yang berdiri di hadapan Prabowo tampak menyodorkan tangan, hendak menjabat tangan Pak Menhan, tetapi Pak Menhan seperti tidak menggubris uluran tangan tersebut.

Melihat posisi kedua orang tersebut, sungguh mustahil rasanya kalau Prabowo tidak melihat atau tidak menyadari bahwa orang di hadapannya ingin berjabat tangan, kecuali memang ada masalah sangat serius dalam penglihatan Capres nomor urut #02 itu.

Namun, kita semua tahu bahwa masalah kesehatan Prabowo bukanlah terletak pada penglihatannya, sehingga sah-sah saja jika publik lantas berasumsi bahwa Prabowo sedang menunjukkan arogansinya dengan menolak berjabat tangan dengan orang yang mungkin dianggapnya bukanlah siapa-siapa itu. Biasanya kan sampai hormat dan membungkuk segala, ya kan?

Namun, saya yakin seandainya waktu itu ada pihak yang memintanya untuk menjabat tangan orang di hadapannya, maka suasananya akan menjadi sangat canggung karena ada penilaian soal ketidaktulusan di sana. Sekali lagi, kalau memang sudah maunya Pak Menhan kadang malah sampai membungkuk dan hormat pun beliau lakukan.

Meskipun harus diakui pula bahwa dalam adegan hormat-hormatan itu, tetap ada suasana awkward karena terkadang situasinya seperti tidak pas. Ini mirip ketika di kantor ada seorang pegawai, yang meskipun setara, bahkan secara usia lebih tua, terkadang kalau berpapasan atau pas saya lewat, beliau akan sebut nama dan ucapkan salam sambil hormat seolah-olah saya atasan beliau. Hahaha...!


Jadi, apakah boleh searogan itu, meskipun hak untuk menolak atau berjabat tangan adalah haknya? Bagaimana dengan adegan hormat, apakah semua itu hanyalah pencitraan belaka untuk mengambil hati sosok yang ada di hadapannya, yang seakan terbukti sekarang bahwa orang yang "dihormati" itu terlena dengan pujian dan sanjungan, lalu seakan menjadi sosok yang tidak lagi seperti dahulu?

Begitulah kura-kura...