Politik

Menanti Ketajaman Intuisi Megawati Di Pilpres 2024.

Adin 2 months ago 1.3k

Sebagian dari kita mungkin ada yang menganggap bahwa intuisi adalah suatu hal yang berkaitan dengan magis atau takhayul. Padahal, intuisi adalah suatu bentuk pengetahuan yang muncul pada kesadaran kita tanpa pertimbangan yang jelas.

Intuisi adalah firasat yang terbentuk dari pikiran bawah sadar. Pada saat itu, pikiran bawah sadar akan dengan cepat menyaring pengetahuan serta pengalaman masa lalu menjadi sebuah gagasan atau ide. Lalu, gagasan atau ide tersebut menjadi sebuah pertimbangan singkat dalam mengambil keputusan tanpa melakukan analisis atau proses berpikir panjang terlebih dahulu.

Alam semesta ini memang bisa dipelajari secara logika. Tapi kita harus mengakui ada bagian-bagian tertentu yang tidak bisa masuk logika. Semua pertimbangan bisa berdasarkan fakta dan data. Ternyata ada sebagian orang yang memutuskan sesuatu tidak hanya berdasarkan fakta dan data tapi juga berdasarkan intuisi.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dinilai orang yang mempunyai intuisi sangat tajam. Oleh karena itu PDI Perjuangan mempunyai cara berbeda dalam memutuskan siapa yang akan maju Pilkada bahkan Capres.

Jika partai lain seperti Partai Nasdem menggunakan musyawarah bersama untuk menentukan Capres, PDI Perjuangan menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum PDI Perjuangan.

Sistem berpikir putri Presiden RI pertama ini unik. Berbagai dinamika politik di negeri ini sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan politiknya. Sejumlah orang yang mengenalnya dari dekat mengatakan, Megawati memiliki intuisi politik yang tajam. Ketajaman intuisinya barangkali bisa jadi juga karena warisan genetis dari Soekarno, ayahnya.

Perjalanan politik Ganjar tak lepas dari intuisi Mega yang memintanya maju di saat-saat terakhir. Waktu itu, pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah selang empat jam sebelum pendaftaran tutup pada pukul 24.00.

Intuisi Mega ini bertentangan dengan hasil survei. Survei Lingkaran Survei Kebijakan Publik (LKSP), anak perusahaan Lingkaran Survei Indonesia yang kesohor itu, elektabilitas Ganjar hanya 8,4 persen, jauh di bawah calon incumbent, Bibit Waluyo, yang mencapai 39 persen. Nyatanya Megawati tidak salah. Ganjar menang dengan perolehan suara 48,82 persen mengungguli Bibit di posisi kedua dengan perolehan suara 30,2 persen.

Pada 2012, intuisi Megawati juga menuntunnya pada sosok Jokowi, Wali Kota Solo. Megawati meminta Jokowi hijrah ke Jakarta untuk maju dalam Pilkada berhadapan dengan calon incumbent Fauzi Bowo atu Foke yang menggandeng Nachrowi Ramli.

Survei yang dilakukan Cyrusnetwork pada Desember 2011, elektabilitas Jokowi hanya 6 persen, sementara Foke berada di urutan teratas dengan 25,3 persen. Sementara, survei PDI-P dari Indobarometer awal Februari 2012 mendapatkan, popularitas Jokowi berada di urutan ketiga setelah Foke dan Tantowi Yahya.

Bahkan keputusan Mega memilih Jokowi sempat dipertanyakan Sekjen PDI-P kala itu, Tjahjo Kumolo. Bahkan suaminya sendiri Taufik Kemas sempat memprotes. Tapi kemudian Jokowi-Ahok mampu memenangkan Pilgub DKI Jakarta.

Tingkat Capres pun intuisi Megawati patut dipuji. Jokowi mampu jadi Presiden tahun 2014 karena Megawati mendorongnya. Padahal keputusan Megawati mendorong Jokowi sangat beresiko.

Jokowi waktu itu masih sangat hijau, Walikota Solo kota kecil 2 periode dan Gubernur DKI Jakarta baru 2 tahun. Tapi nyatanya Jokowi tidak membuat Megawati malu. Jokowi mampu membawa perbedaan dalam memerintah negeri ini.

Ganjar elektabilitasnya sangat tinggi, sedangkan Puan sangat rendah. Tapi Puan merupakan putri langsung dari sang Ketua Umum. Nah sekarang pun intuisi Megawati patut kita nantikan ketajamannya. Apakah akan memilih Puan atau Ganjar Pranowo.

Apakah pilihan Megawati akan kembali sukses jadi RI 1?

Sumber :

https://hellosehat.com/mental/apa-itu-intuisi/