Politik

Ketika SBY Turun Gunung untuk Kesekian Kalinya, Mungkinkah Ini Alasannya?.

Widodo SP 5 days ago 928.0

Untuk kesekian kalinya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) "turun gunung" dalam pentas politik di Tanah Air kita tercinta ini. Alasannya sih, ada dugaan kecurangan pada Pilpres 2024 dari informasi yang beliau dengar dan ketahui.

Namun, seberapa valid informasi yang disebutkan oleh SBY di hadapan para kader Partai Demokrat, mungkin hanya beliau dan Tuhan yang tahu. Bisa jadi informasi itu ada benarnya (meski sedikit), tapi bisa juga lebay karena ada halusinasi dan kekhawatiran berlebihan di sana.


Sebenarnya soal "kecurangan" dalam pesta demokrasi ini sudah menjadi topik yang basi, karena bisa dibilang kerap berulang dengan pelaku dari partai manapun sebagai peserta Pemilu, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat pusat dalam ajang kontestasi sekelas Pilpres.

Siapa bisa jamin bahwa dalam upaya memenangkan kursi untuk jabatan tertentu, sama sekali tidak diwarnai politik uang? Bagaimana dengan "serangan fajar", kampanye terselubung lewat pemberian sembako atau bentuk kebaikan lainnya? Bagaimana dengan hasil coblosan yang dijadikan masalah, karena tidak memilih paslon tertentu? Belum soal data ganda dan transparansi dalam proses demokrasi dari awal sampai akhir ketika paslon pemenang dilantik?

Kembali ke istilah turun gunung

Setidaknya ada tiga perkara yang saya pahami ketika ada situasi yang membuat seorang tokoh penting sampai harus "turun gunung" seperti yang SBY lakukan berkali-kali itu.

Pertama, karena ada perkara yang kudu dibereskan. Terkadang memang orang itu bisa membereskan berkat pengalamannya selama ada "di bawah gunung", tapi bisa juga gagal karena situasi yang dihadapi ternyata di luar kemampuan tokoh itu.

Kedua, karena lapar. Dalam hal ini, kondisi lapar bisa berarti "periuk nasi" yang mulai terganggu karena satu dan lain perkara, sehingga si tokoh itu merasa perlu bertindak supaya kondisi laparnya teratasi dan periuk nasinya tidak oleng lagi.

Ketiga, hendak menolong penerusnya yang tidak mampu. Dalam film, pesilat tua terkadang perlu turun tangan menghadapi para gerombolan yang hendak mengganggu jalannya kekuasaan yang dipimpin oleh juniornya. Maklum, juniornya ini dianggap masih hijau alias belum banyak pengalaman, tapi bisa pula karena si pesilat tua itu terlalu baper, tidak berani mempercayai juniornya, atau terkena semacam gejala post power syndrome sehingga nggak bisa tenang kalau nggak turun gunung itu tadi.


Pertanyaan besarnya adalah: memang selama ini keluarga SBY tinggal di gunung mana? Kok sampai perlu turun segala? Hahahaha...! Nggak ding, bercanda saja kok, biar suasananya nggak kaku kayak kanebo kering.

Sebenarnya hak SBY juga mau berbuat apa, selama masih urusan internal partai. Kita yang di luar kubu mereka mungkin hanya bisa nyengir, prihatin, atau menanti cerita selanjutnya akan berlangsung seperti apa. Mau menunggu sampai "lebaran kuda" ya silakan...! Bagaimana menurut Anda?

Begitulah kura-kura...