Politik

Jokowi Jangan Kaget, Tik Tok Lebih Pilih Investasi di Malaysia.

Xhardy 13 days ago 647.0

Jokowi benar-benar tertampar parah menjelang berakhirnya masa jabatannya. Salah satu program utama sejak dia menjabat adalah menggenjot investasi supaya pertumbuhan ekonomi bisa meleset. Tapi menjelang masa berakhir jabatan, Jokowi seolah kalah, tidak mampu dan tidak tahu harus berbuat apa.

Indonesia ketinggalan dari negara tetangga. Misalnya Apple lebih memilih Vietnam. Google lebih memilih Malaysia. Investasi Microsoft di Malaysia juga lebih besar ketimbang di Indonesia.

Dan sekarang, sedih lah pokoknya. ByteDance asal China yang merupakan induk Tik Tok berencana menggelontorkan dana US$ 2,13 miliar atau sekitar Rp 34,7 triliun untuk membangun pusat AI di Malaysia.

Sebagai bagian dari kesepakatan, ByteDance akan mengekspansi fasilitas pusat data di Johor, melalui investasi tambahan senilai 1,5 miliar ringgit atau sekitar Rp 5,2 miliar. Investasi tambahan dari ByteDance akan membantu Malaysia mencapai target pertumbuhan ekonomi digital sebesar 22,6 persen dari PDB pada 2025 mendatang.

Coba tanya Jokowi kenapa bisa begitu? Paling dia bakal kaget, geram dan heran kenapa Malaysia lebih menarik daripada Indonesia, hehehe.

Coba pikirkan, padahal gaji dan upah di sana berkali lipat dari UMR di Indonesia, tapi investor lebih memilih Malaysia dan negara tetangga lainnya. Ini benar-benar ada yang salah dengan Indonesia.

Birokrasi, kepastian hukum, keamanan, pungli dan ormas-ormas yang you know lah.

Saya makin yakin kalau Jokowi gagal total dalam memberantas akar terdalam dari kenapa negara ini sulit menggolkan investasi besar dari perusahaan raksasa di dunia. Malah masalah ini kian merajalela dan mendarah daging. Salah sendiri kenapa tidak tegas dan keras memberantas itu semua. Sekarang bagaikan benang kusut dan terikat sana-sini. Mau diuraikan pun sudah sulit sekali.

Bonus demografi yang dibanggakan Jokowi, mungkin bakal berubah jadi malapetaka. Bonus apaan kalau investasi besar aja sulit ditangkap. Lapangan pekerjaan minim, pengangguran bejibun, Gen Z aja kepayahan cari kerja. Ini bukan bonus demografi, tapi bonus sakit kepala buat pemerintah selanjutnya.

Gimana mau memajukan sektor digital kalau perusahaan raksasa teknologi aja masih mikir ribuan kali untuk menanamkan modal di sini? Keengganan mereka adalah alarm bahaya yang harusnya jadi bahan introspeksi. Tapi sayang pemerintah selalu pura-pura tidak tahu akar masalahnya. Atau jangan-jangan sudah tahu akar masalahnya apa, tapi sudah terlalu rumit sehingga pasrah aja? Good luck deh buat visi Indonesia Emas 2045.

Bagaimana menurut Anda?