Politik

Ganjar Pranowo dan Elektabilitas tanpa Beras.

Eko Wibowo 7 months ago 1.5k

Terbaru, dari KOMPAS.TV, Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research merilis hasil survei terbarunya terkait calon presiden atau Capres 2024 mendatang.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, masih teratas walau diketahui hanya terpaut tipis dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Elektabilitas Prabowo Subianto adalah sebesar 20,3 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 20,0 persen. Sementara Anies Baswedan dan Ridwan Kamil tercecer lumayan jauh dengan masing-masing elektabilitas 10,6 persen dan 10,2 persen.

Dari sedikit jabaran di atas, bila dilihat dari sisi elektabilitas, jelas untuk Ganjar bisa dikatakan tidak ada masalah. Aman. Kalah sementara dari Prabowo juga bukan hal yang aneh. Nama Prabowo, dalam beberapa kali saat menjelang pilpres sebelumnya, sudah biasa berada di atas.

Inilah yang menarik, yaitu terkait potensi ke depannya. Terkait dengan kemungkinan untuk biss lebih dioptimalkan lagi perolehan angka elektabilitas itu. Dan di sini, Ganjar boleh dikatakan lebih diunggulkan. Karena berdasar survei dari Indikator Politik terkait nama yang paling potensial, ternyata menempatkan Gubernur Jawa Tengah itu di posisi paling atas.

Dikutip dari TRIBUNNEWS.COM, dalam simulasi tiga nama tertutup calon presiden 2024, yaitu Ganjar-Anies-Prabowo, kader banteng moncong putih ini adalah nama yang paling potensial untuk menjadi calon presiden di 2024 nanti.

Pada simulasi itu, memang pada tingkat nasional Prabowo Subianto unggul dengan 35,4 persen, disusul Ganjar Pranowo 31,6 persen, dan Anies Baswedan 24,4 persen. Namun pada kelompok yang mengenal Anies, Ganjar dan sekaligus Prabowo, nama Ganjar Pranowo ternyata cukup dominan.

"Artinya banyak orang yang belum memilih Ganjar hari ini karena enggak kenal Ganjar. Tapi kalau misalnya sama-sama kenal ini Ganjar potensial (46,1 persen), Prabowo 23,8 persen, Anies 26,1 persen," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.

**

Masih lebih-kurang dua tahun lagi menuju 2024 saat Indonesia harus memilih presidennya lagi. Layaknya sebuah pemilihan, tentu tingkat elektabilitas yang menjadi penentu utamanya. Nah, jika hanya mendasarkan pada itu saja, tentu nama Ganjar Pranowo boleh ditempatkan di paling depan.

Namun bila ditambah dengan kemungkinan potensi untuk bisa mengoptimalkan elektabilitas, Ganjar masih tetap di posisi terdepan. Artinya, elektabilitasnya oke, tingkat potensialnya juga oke.

Seakan tidak ada masalah.

Tapi ini Indonesia. Suka atau tidak, ungkapan "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?" masih banyak penikmatnya, tentu saja dengan berbagai alasan-alasannya. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Waktu juga masih begitu lapang.

Ganjar, dengan elektabilitas dan tingkat potensialnya, seharusnya memang patut diperhitungkan. Sebagai kader partai, dia telah memperlihatkan keteguhannya dalam melaksanakan amanahnya sebagai seorang pemimpin. Hembusan angin capres-capresan tidak membuatnya bergeming. Badai banteng-celeng gagal membuatnya terbawa arus. Ganjar tegak-lurus dan lepas dari jebakan off-side.

Maraknya paham dan ideologi yang mengancam ke-Indonesia-an juga ditangani Ganjar dengan presisi. Jawa Tengah terbukti tenang.

Menghadapi pandemi, Ganjar juga sangat teknis. Bersolusi yang menyentuh langsung pada masalah. Ganjar memastikan mereka yang terdampak dapat diperhatikan dan ditangani secara cukup. Ganjar cukup cemerlang menghadapi Covid-19 yang menyerang.

Kekinian, di saat dunia sedang sangat perhatian pada dampak perubahan iklim yang secara serius menjafi ancaman, Ganjar juga tidak absen. Upaya Pemprov Jawa Tengah untuk meningkatkan kesadaran warga tentang isu perubahan iklim, berbuah manis. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mengganjar usaha provinsi yang dipimpin Ganjar itu dengan piagam apresiasi pembina Kampung Proklim 2021.

Tapi tetap saja ada yang menganggap Ganjar kurang, walaupun itu sebuah keniscayaan. Tapi begitulah dunia dijalankan, termasuk politik. Akan selalu ada kelompok orang yang melihat dari sudut pandang kekurangannya saja. Apalagi mereka yang senang bermain dan memainkan sisi persepsi.

Sebagai misal, selalu akan ada kelompok yang menilai Anies gagal. Bahkan Pak Jokowi pun juga mengalami hal yang sama. Namun, dipastikan bahwa tidak akan kekurangan lembaga --baik negara maupun independen-- yang selalu memberi penilaian pada kinerja setiap tokoh-tokoh itu, termasuk Ganjar.

Bagi Ganjar, yang pasti bagaimana saat ini tidak terpengaruh pada elektabilitas sementaranya itu. Tetap bekerja seperti biasa. Biarkan persepsi itu, baik yang negatif maupun positif, berkembang sewajarnya.

Apalagi ikut-ikutan main beras!