Politik

Cak Imin Manyun ketika Warga NU Lebih Pilih Ganjar, Erick, atau Prabowo.

Eko Wibowo 4 months ago 1.2k

Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, termasuk orang lama di dunia perpolitikan Indonesia. Pernah di pimpinan legislatif--dan sekarang masih, pernah juga menjadi bagian eksekutif sebagai menteri. Seniorlah!

Di ajang percapresan, begitu juga. Bukan pendatang baru. Semenjak berhasil mendepak Gus Dur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Cak Imin terkenal rajin mengkampanyekan dirinya sebagai calon wakil presiden atau bahkan calon presiden. Namun apesnya, selalu mentok. Manuver Cak Imin selalu amsyong, kalah dari nama-nama yang lebih moncer dan modal yang lebih tokcer. Hingga kini, tak pernah sekalipun gambar dirinya berhasil menjadi objek coblosan di setiap pesta pemilihan presiden.

Tapi bukan Cak Imin kalau patah arang. Selama masih ada kesempatan patutlah bila dicoba lagi. Dan lagi. Apalagi ketika mendapati mencuatnya deklarasi Prabowo-Muhaimin untuk Pilpres 2024. Ketua Umum itupun menilai pihaknya terbuka terhadap siapapun tokoh yang muncul.

"Ya pada dasarnya kita sangat terbuka ya, Pak Prabowo dengan semua nama-nama yang muncul apalagi hampir semua yang muncul hari ini dan sudah punya kedekatan dengan koalisi pemerintahan, maupun hubungan yang baik," kata Cak Imin di Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (29/1/2022) dikutip dari detik.com.

Deklarasi itu tentu biar bagaimanapun memperlihatkan bahwa nama Cak Imin masih eksis. Masih ada gaungnya. Walau ternyata dalam sebuah survei, nama Cak Imin bukanlah pilihan utama di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Padahal secara historis, PKB dan Cak Imin lahir dan dekat dengan NU.

Adalah Center for Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS) yang menyebut dalam surveinya bahwa Menhan Prabowo Subianto menjadi yang terkuat tingkat keterpilihannya di kalangan Nahdliyin dengan 20% suara. Disusul oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 27,5 persen dan di urutan tiga besar adalah Menteri BUMN dengan 15 persen.

Tentu ini menarik, kenapa Cak Imin justru melempem, bukan pilihan utama bagi warga NU? Kurang dekat apa beliyo dengan ormas Islam terbesar sedunia itu?

Pertama, mungkin saja Cak Imin dianggap 'tidak sopan' kepada NU. Terbaru adalah adanya konsolidasi dan deklarasi capres 2024 dalam safari PKB di Banyuwangi dan Situbondo yang di mana dilakukan dan dihadiri beberapa Pengurus Cabang NU beberapa waktu lalu.

Cak Imin tentu seharusnya tahu bagaimana NU dalam kepengurusan baru ini. Setelah Muktamar ke -34 di Lampung, 22-24 Desember 2021, di bawah KH Yahya Cholil Staquf, ada komitmen bahwa akan menjaga NU sebagai organisasi agar tidak terjebak pada politik praktis. Dengan menyeret pengurus NU dalam safari politiknya, tentu semakin merunyamkan nama Cak Imin di kalangan nahdliyin. Warga nahdliyin yang Gusdurian tentu belum lupa bagaimana kelakuan Cak Imin cs di masa lalu.

Kedua, bisa jadi warga nahdliyin tidak merasa terwakili oleh Cak Imin atau oleh PKB. Betul, sebagai partai Islam PKB tidak berusaha memberi pembeda sehingga menjadi partai yang sangat NU. Bandingkan dengan Partai Keadilan Sejahtera yang ideologi dan identitasnya begitu kentara!

Ketiga, warga NU memang melihat bahwa Cak Imin tidak memiliki kompetensi yang cukup sebagai capres. Mereka tidak menemukan kelebihan yang menjadi keunggulan dan nilai jual sehingga bisa dijadikan modal untuk bersaing dengan para capres lainnya.

Tapi memang begitulah sepertinya. Sejauh ini memang agak susah menemukan prestasi, bahkan visi-misi sekalipun, dari seorang Cak Imin. Yang jelas ditemukan, justru siklus lima tahunan soal kesiapannya untuk menjadi cawapres atau capres. Itu saja.

Sementara dalam memimpin partaipun juga begitu. Terpilih berkali-kali sebagai ketua umum tapi ternyata tidak mampu mengangkat partainya beranjak dari partai medioker.

Jadi jangan heran bila meladeni Erick Thohir yang pendatang baru di perpolitikan Indonesia dan di NU, Cak Imin keteteran. Apalagi ketika harus berhadapan dengan sosok berpengalaman semacam Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, jelas Cak Imin tidak ada apa-apanya.

Akhirnya, perjalanan Cak Imin dalam dunia capres-cawapresan sekarang ini, hasilnya sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang sebelum-sebelumnya. Begitu-begitu saja. Hanya menambah remah-remah menjelang pilpres, tanpa pengaruh dan perkembangan yang berarti.

https://www.inews.id/news/nasional/survei-csiis-warga-nahdliyin-ingin-erick-thohir-dan-ganjar-pranowo-ramaikan-pilpres-2024