Politik

Buruk Muka Cermin Dibelah, Buram Jejak Cermin Dielak?.

Panjath H. 10 months ago 633.0

Kita semua pasti sudah hapal peribahasa atau ungkapan “buruk muka cermin dibelah”. Peribahasa ini sudah diajarkan di sekolah dasar (SD). Ungkapan ini gambaran tentang seseorang yang tidak mau tahu tentang tabiat atau perilakunya yang keras kepala, bebal, dan gemar menyalahkan apa saja – atau siapa saja.

Orang seperti ini sulit untuk dinasihati, disadarkan atau diarahkan untuk mengubah diri. Ibaratnya dia tidak mau disuruh bercermin atau introspeksi. Baginya lebih baik memecahkan saja cermin itu supaya tidak melihat kesalahan atau dosa-dosa yang dia sudah lakukan. Dia tidak mau menatap cermin, yang bisa menghantui pikirannya.

Peribahasa lama dan klasik ini menjadi populer dan relevan dibahas pada saat ini karena Najwa Shihab, seorang presenter terkenal dan senior, belum lama ini menampilkan tiga orang bakal capres dalam acara Mata Najwa.

Program yang diberi judul: Bicara Gagasan itu, mengambil tempat di UGM. Najwa mewawancarai mereka seputar gagasan jika nanti terpilih dalam Pilpres 2024, tepatnya medio Februari mendatang. Gagasan itu penting dijabarkan supaya masyarakat tahu soal kapasitas dan kapabilitas seorang capres.

Ini penting, agar jangan sampai kita memilih kucing dalam karung. Lha, bagaimana pula kalau yang dapat malah kucing garong?

Tapi Uniknya, entah dengan maksud apa, Najwa terlebih dahulu meminta para tamu terhormatnya itu menghadap kaca/cermin besar yang tersedia dalam ruangan. Najwa meminta mereka untuk berefleksi dulu sambil memandangi bayangan sendiri di cermin itu.

Anies Baswedan, di depan bayangan dirinya, berefleksi tentang perjalanan hidupnya, bercerita tentang bagaimana dia di masa kecil sudah bermain sepak bola di lapangan yang berada di kawasan kampus terbaik itu. Bahkan beberapa tahun kemudian, dia menjadi mahasiswa di sana. Suatu pencapaian yang cukup membanggakan tentu saja.

Lancar dan mulus, sebab dia toh sudah dikenal sebagai jago soal menata kata. Menurut hemat penulis, penampilannya cukup bagus dan memukau. Dia tenang dan lancar berbicara sambil memandangi bayangan dirinya dalam cermin besar itu. Tidak grogi. Mungkin karena tidak ada beban berat atau noda hitam masa lalu yang harus dia ungkapkan sebagai refleksi diri.

Ganjar Pranowo, ketika pertama mendapat giliran untuk berkaca sambil berefleksi, juga tak kalah memukaunya. Dengan tenang dia menceritakan tentang orang tuanya yang berpesan agar dirinya tidak mengejar jabatan. Tapi kalau takdir memang menjodohkan dengan suatu jabatan supaya itu dijalani dengan benar, dan jangan pernah korupsi!

Suatu refleksi yang singkat, jelas, bermakna dalam, dan punya nilai yang sangat luhur.

Lalu pada gilirannya, Prabowo Subianto sempat menimbulkan situasi yang terkesan serius atau tegang. Atau ada kesan bahwa beliau seperti enggan berkaca. Namun ketika didesak Najwa untuk menghadap cermin dan berefleksi, yang bersangkutan menurut juga. Tatapi beliau bukannya berkata-kata, tetapi memberi hormat ala militer. Gagah dan elegan!

Ya, beliau memberi hormat pada bayangannya sendiri, tegap dan penuh hikmat, sebagaimana seorang militer memberi hormat kepada atasan. Sebuah gerakan refleks yang tentunya sering dia lakukan di masa aktif sebagai tentara, dan juga setelah pensiun, dan terlebih saat menjabat menteri pertahanan.

Sungguh mengharukan sebenarnya menyaksikan beliau menghormat bayangannya sendiri di kaca itu dengan takzimnya.

Tetapi yang dimaui oleh Bu Najwa bukan itu. Dia ingin Prabowo mengucapkan kata-kata sebagai refleksi diri. Tapi sayang, berkali-kali diminta oleh tuan rumah untuk berefleksi sambil memandang dirinya di cermin itu, Prabowo tampaknya memang ogah? Sampai kita yang menyaksikan lewat layar kaca pun sebenarnya cemas dan khawatir jangan-jangan nanti tamunya itu marah sebab didesak terus?

Akhirnya Prabowo memang berkata-kata juga, namun bukan di depan cermin sebagaimana dikehendaki tuan rumah dan para pemirsa. Justru Prabowo berbicara menghadap para penonton.

Aneh tapi nyata, sebab apa sih susahnya berkaca, memandangi muka sendiri sambil berbicara sepatah dua kata? Orang yang wajahnya jelek saja tidak sampai segitunya enggan berkaca. Sementara tamu-tamu agung Najwa itu semua tampan. Tapi kok ada yang seperti segan memandang kaca?

Ada analisis bahwa keengganan semacam itu bisa saja dilatari oleh riwayat latar belakang, track record, atau jejak yang suram? Sementara salah seorang tamu istimewa Mata Najwa itu bahkan meninggalkan rekam jejak yang tergolong suram dan semrawut ketika menjabat gubernur.

Program-programnya hampir semua gatot alias gagal total. Salah satunya rumah DP Rp 0,- yang tidak jelas kelanjutannya. Tapi yang bersangkutan biasa-biasa saja tuh. Tak ada beban waktu disuruh bercermin dan berefleksi. Atau jangan-jangan urat malunya memang sudah putus?

Di kasus lain, ataukah memang rekam jejak itu sudah terlalu suram dan hitam pekat sehingga “takut” berkaca diri? Kalau begitu benarlah apa kata atau status seorang netizen di medsos: buruk muka cermin dibelah, buram jejak cermin dielak?