Politik

Blunder “Gunting Pita” VS Netizen Indonesia .

Adin 2 days ago 2.1k

Para politikus melakukan berbagai manuver demi perhatian publik dan meningkatnya citra partai. Mereka melakukan beragai cara bahkan yang nyeleneh hingga konyol demi kejayaan partainya.

Terbaru kabar datang dari Partai Demokrat. Pada Rapimnas beberapa hari yang lalu AHY begitu semangat mengatakan jika Jokowi hanya tinggal gunting pita karena mayoritas proyek sebenarnya dikerjakan pada masa pemerintahan SBY.

Menyebut "Jokowi hanya tinggal meresmikan dan menggunting pita" adalah sebuah blunder politik yang tidak perlu bahkan malah mempermalukan diri sendiri.

Pernyataan AHY tersebut mengkonfirmasi bahwa seorang politisi ingin berkuasa sehingga mengaburkan rasionalitas. Padahal dalam politik, nafsu adalah dorongan psikologis yang jika tidak difilter dengan baik, bisa mengaburkan penglihatan intelektual seseorang.

Ketika nafsu dan amarah atau luapan perasaan seorang politisi sedang menguasainya, maka rasionalitas tidak bekerja. Dan dampak dari hal tersebut ke ruang publik adalah aroma kebencian. Sehingga pernyataan yang keluar mayoritas berdasarkan kebencian tidak berdasarkan fakta di lapangan.

Menyerang Presiden Jokowi soal pembangunan infrastruktur tanpa data yang valid, akan dianggap masyarakat sebagai sebuah kekonyolan, permainan politik hitam. Karena masyarakat Indonesia justru melihat dan merasakan hal yang sebaliknya.

Sebagaimana kita maklum, pembangunan infrastruktur di era Jokowi sangat luar biasa. Belum pernah terjadi di era sebelumnya. Misalnya, ada jalan tol dari Banten sampai Banyuwangi di Jawa yang membuat mudik sangt lancar. Juga infrastruktur lainnya, dari jalan, bandara, bendungan hingga tol laut dan lainnya.

Justru publik akan salut jika Partai Demokrat berbicara sesuai realitas walapun pahit. Masyarakat akan lebih simpati jika Demokrat mengakui keunggulan Jokowi walaupun sebagai lawan politik.

Pemerintahan Jokowi memang ada kekurangan, tapi menyerang kelemahan Jokowi tetap harus berdasarkan fakta. Jangan sampai asal membuat pernyataan sehingga malah mempermalukan diri sendiri.

Jadi pernyataan AHY ini terlihat seperti sebuah serangan politik yang kurang cerdas. Akibat kesalahan data yang diberikan para penasihat AHY. AHY lalu terjerumus menyampaikan sesuatu yang menjadi blunder politik.

Akibatnya, serangan tersebut bukannya sukses merendahkan Jokowi, tetapi justru sebaliknya malah menyerang balik Partai Demokrat dan AHY, sebab data dan jejak digital tentang proyek-proyek mangkrak di jaman SBY sangat dikuasai publik dan netizen.

Masyarakat dengan mudah mencari data sehingga mempunyai segudang referensi bahwa di jaman SBY ada proyek yang mangkrak dengan dana triliunan seperti Hambalang. Sedangkan di jaman Jokowi, pembangunan infrastrukturnya luar biasa dan sangat bermanfaat bagi publik juga aksesibilitas ekonomi yang menaikan daya saing.

Sebenarnya Istana tidak perlu susah payah menangkis serangan dari AHY, biarkan yang “Maha Besar” Netizen menghadapi dengan caranya sendiri.

Netizen kok di lawan. Netizen Indonesia dikenal sangat militan dan tiada ampun.