Politik

Baru Bacapres Sudah Main Tangan: Para Pendukung Pak Jokowi Yakin Masih Mau Pindah Gerbong?.

Aliyaah Mireida 9 months ago 3.4k

Waktu saya dapat berita bahwa salah seorang bacapres yang masih menjabat sebagai Menteri sudah main tangan, tepatnya mencekik dan menggampar, salah seorang Wamen, terus terang saya antara kaget nggak kaget.

Kagetnya karena tindakan itu dilakukan terhadap Wamen sebelum rapat kabinet, yang berarti kejadian ini di tingkat nasional, yang seharusnya berisi orang-orang berpendidikan dengan kelola emosi yang baik. Parahnya lagi, baik Menteri yang lolos dari kejadian itu, maupun Wamen yang menjadi korban, bukanlah dari anggota partainya sendiri.

Walau begitu, rasa kaget saya nggak berlangsung lama, karena tindakan itu dilakukan oleh bacapres yang memang sudah punya track record seperti itu, jadi sesaat kemudian, reaksi saya berubah dari kaget menjadi, “Oh, kalau dia sih nggak heran.”

Kebetulan, saya juga baru membaca berita bahwa AHY dikabarkan akan mendeklarasikan dukungan Demokrat kepada bacapres tersebut. Hal ini saya sudah duga, dan terus terang saya harapkan juga, karena gerbong Pak Ganjar bisa kacau kalau kemasukan mereka di gerbongnya.

Hanya saja, yang bikin saya makin heran adalah bahwa PSI akan hadir di acara tersebut dan malah salah seorang elitnya bilang merasa tersanjung diundang bacapres tersebut meski belum resmi menyatakan dukungan. Yang lebih bodohnya lagi, disebutkan bahwa mereka masih menunggu komando Pak Jokowi untuk mendukung bacapres tersebut.

Halo, PSI, kalian kira Pak Jokowi akan rela bacapres dengan temperamen nggak stabil seperti itu untuk memegang tampuk kekuasaan negara ini? Bukan hanya orang sekitarnya, tapi rakyat juga berpotensi menjadi korban kalau orang seperti ini berkuasa! Nggak usah lagilah berkelit ke sana kemari dengan menyeret nama Pak Jokowi, masih tunggu komandolah, inilah itulah, cuma silat lidah semua. Relawan Pak Jokowi saja sebagian besar (kalau belum semua) sudah bergeser ke gerbong Pak Ganjar, percuma kalian berkelit masih menunggu komando Pak Jokowi tapi menjelekkan PDI Perjuangan yang merupakan rumah beliau dan Pak Ganjar. Kurang kode apa Pak Jokowi ketika mengumumkan akan menasionalkan program Pak Ganjar?

Kalau kalian lakukan manuver ini terus, apa bedanya kalian dengan bacapres tersebut yang nggak punya track record apa pun untuk menyokong dirinya kecuali dengan menyeret Pak Jokowi beserta keluarganya, dan melakukan adu domba dimana-mana, persis dengan taktik favoritnya, rampok rumah yang terbakar?

Selain PSI, saya juga heran dengan sikap Permadi Arya yang videonya pernah berseliweran, mengaku hijrah, masih melawan intoleransi, tapi malah mendukung biang intoleransi. Lupa pernyataan Buni Yani bahwa yang mengedit itu orang partai bacapres tersebut? Omong kosong saja mengaku hijrah, yang artinya sering diidentikkan dengan pindah ke jalan yang benar, tapi malah masuk ke kandang orang-orang seperti itu, sementara Pak Ganjar yang memiliki track record jelas menentang keberadaan intoleransi malah ditinggalkan.

Keheranan saya juga berlaku pada Ade Armando, yang mengaku humble dengan kedatangan bacapres tersebut, dan saking terkesimanya dia, makin ke sini, omongannya makin ke sana. Malah nggak terima segala setelah Pak Ganjar dinilai nggak melakukan pelanggaran di tayangan Azan. Makin aneh ini, dia yang mengaku dosen komunikasi, masa nggak bisa menilai objektif, pakai logika yang selalu dia banggakan? Pak Ganjar nggak bicara apa-apa, kampanye atau apa pun di tayangan tersebut, hanya wudhu dan shalat, dan semua pembicaraan tidak ada suaranya, hanya gestur saja yang terlihat. Masa mau dibilang pelanggaran? Pak Ganjar beribadah dengan agamanya sendiri kok pelanggaran. Apa saking merasa humble dengan sosok bacapres yang mendatanginya itu, logika Ade sampai ikutan tiarap?

Dengan adanya berita mengenai bacapres yang masih berstatus Menteri itu kepada Wamen sebelum rapat kabinet, saya mau tahu mereka ini akan ngeles seperti apa. Mau bilang itu hoax? Saksinya banyak. Mau bilang itu salah Menteri yang diwakili kenapa nggak datang, jadi Wamennya kena sasaran? Halo, ini terjadi sebelum rapat kabinet, yang berarti di tingkat nasional yang seharusnya berisi orang-orang berpendidikan dengan emosi yang stabil, bukan tempat bagi orang-orang labil. Apalagi usia bacapres terkait tidak lagi muda yang masih bisa dimaklumi kalau memiliki emosi labil. Orang muda saja tidak bisa dimaklumi kalau main fisik, (dan pemukulan memang merupakan tindak pidana), apalagi yang lebih tua.

Pihak bacapres tersebut akan ketar-ketir bila berita ini semakin mencuat. Mereka akan sibuk klarifikasi ke sana kemari, bahkan mungkin sampai mencoba mengalihkan isu, entah pakai apa (mudah-mudahan saja nggak ada kejadian aneh-aneh). Bukan mustahil mereka mengerahkan tim pemadam untuk mencegah setiap percikan api yang menyala, yang mencoba mengabarkan dan mengobarkan berita ini, dan mungkin segala macam berita lain yang nantinya muncul dan dianggap merugikan mereka, ke seluruh penjuru negeri.

Yang jelas, semakin dekat waktu pendaftaran capres, sepertinya setiap kebusukan akan ditampakkan, agar semakin mudah melihat menembus berbagai tirai kebohongan yang hendak digunakan menutup mata hati rakyat, persis sesuai simbol hitam-putih yang dipakai Pak Ganjar.