Politik

2024 PDIP Nyungsep, Jika Tidak Mengusung Kader Pilihan Rakyat.

Bamswongsokarto a year ago 387.0

Entah sandiwara apa yang sedang dipertontonkan PDIP akhir-akhir ini, sequel yang diangkat rupanya tentang Ganjar Pranowo yang memiliki khans besar untuk maju dalam pilpres 2024. Tetapi menjadi aneh, ketika dalam kemasan sandiwara itu PDIP malah seolah tidak membuat kadernya (Ganjar Pranowo) semakin lebar dan mulus jalan peluangnya menuju pilpres 2024. Padahal selama ini masyarakat menilai, hanya Ganjar-lah kader PDIP yang berpeluang besar sebagai kandidat capres 2024, setelah Joko Widodo. Masyarakat membaca, tidak diundangnya Ganjar dalam acara penguatan soliditas partai menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dan pernyataan Ketua DPD PDIP Jateng yang mengatakan Ganjar Pranowo terlalu berambisi nyalon presiden, adalah upaya menyingkirkan Ganjar Pranowo dari bursa pencapresan 2024. Padahal menurut pandangan berbagai akar rumput (masyarakat bawah), Ganjar Pranowo adalah kader PDIP terkuat sebagai capres yang diinginkan masyarakat untuk saat ini, di antara kader-kader PDIP yang lain.

Semoga saja semua ini hanya strategi “hembusan bara api” dari PDIP dalam rangka menilai sejauh mana hangat panasnya respon masyarakat jika ada sebuah upaya “menzolimi Ganjar”. PDIP adalah partai yang sejauh ini membuka peluang bagi para kader potensial dan berprestasi yang sudah teruji serta dapat diterima masyarakat ,untuk maju menjadi pemimpin. Salah satunya Presiden Joko Widodo. Meskipun pada awalnya ditolak oleh banyak petinggi PDIP. Bahkan, almarhum Taufiq Kiemas yang kala itu menjabat Ketua MPRI menilai tidak mungkin Jokowi dicalonkan capres. Tetapi antusiasme dukungan arus bawah terhadap Joko Widodo saat itu tidak dapat terbendung hanya oleh penilaian Taufiq Kemas dan para petinggi PDIP yang lain. Rupanya Megawati membaca peluang besar ini dan mampu membaca apa kehendak rakyat terhadap partai yang dipimpinnya ini. Megawati tidak menyia-nyiakan kesempatan baik untuk menjadikan PDIP sebagai partai pemenang sekaligus menempatkan kadernya sebagai presiden. Hal itupun merupakan strategi politik PDIP dalam mengukur sejauh mana respon hangat panasnya antusiasme masyarakat terhadap Joko Widodo saat itu. Dan ternyata berhasil.

Sebagai kader PDIP, Ganjar tidak perlu diragukan. Dia anak ideologis PDIP yang merangkak dari bawah. Keberhasilannya memimpin khususnya Jawa Tengah selama ini berhasil merebut simpati masyarakat. Tujuh subjektivitas kesalahan PDIP yang ditujukan kepada Ganjar bisa dianggap sebagai angin topan yang dibuat PDIP sendiri. Entah apa maksud dan tujuan PDIP memberikan penilaian tujuh hal yang kesalahan Ganjar Pranowo. Kita sebagai rakyat kecil hanya bisa menebak-nebak. Satu, hanya strategi PDIP untuk mengukur seberapa besar dukungan masyarakat kepada Ganjar Pranowo, atau yang kedua, PDIP memang benar-benar menjegal Ganjar Pranowo agar tidak terpilih sebagai kandidat capres 2024.

Seperti kita ketahui, Ganjar Pranowo adalah salah satu kandidat terkuat, selain Puan Maharani, yang masuk dalam radarnya masyarakat sebagai capres dari PDIP. Dari dua kandidat dari PDIP itu, Ganjar nampaknya lebih membumi dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri, artinya Ganjar lebih “sreg” di hati masyarakat. Saat ini keberpihakan suara masyarakat masih mengarah pada Ganjar. Sedangkan terhadap Puan Maharani, meskipun titisan langsung Megawati yang tentu saja sebagai titisan Soekarno, tetapi elektabilitasnya masih di bawah Ganjar Pranowo.

Hingga saat ini jargon “Megawati adalah PDIP dan PDIP adalah Megawati” masih melekat di hati masyarakat, sangat sulit jika diubah “Puan adalah PDIP dan PDIP adalah Puan”. Mengapa? Karena Megawatilah yang menjadi kekuatan dan roh PDIP itu sendiri. Dan tentu saja besar kemungkinannya jika suatu saat akan berpindah kepada Puan Maharani. Tetapi dalam hal pencapresan ini, semua sangat bergantung dan ditentukan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai penentu.

Seperti halnya Joko Widodo yang dulu dikenal sebagai petugas partai, yang mau tidak mau harus menurut apa titah sang ketua umum PDIP. Masyarakat berharap PDIP tetap menjadi partai terbuka partainya wong cilik yang mengutamakan keinginan wong cilik. Karena bisa saja suara-suara wong cilik akan berpindah haluan, jika PDIP (Megawati) tidak meberikan rekomendasi pada sosok capes 2024 yang dikehendaki masyarakat.

Sayang jika kader yang memiliki peluang besar untuk menang pada pilpres 2024 didepak hanya untuk kepentingan Puan sebagai anak biologis Megawati. Yang akhirnya bisa berakibat pada nyungsepnya PDIP pada perhelatan pilpres 2024. Bukankah kemenangan PDIP itu juga kemenangan Megawati dan Puan?

Badai kecil dalam PDIP yang berkaitan dengan sandiwara dalam sequel “Ganjar Capres” ini tentu saja akan dimanfaatkan oleh partai lain yang tidak memiliki kandidat capres, untuk mencoba mempengaruhi Ganjar Pranowo. Bagi parpol oposisi tentu saja hal ini merupakan kesempatan emas memporak-porandakan strategi lawan. Lihat saja PKS, begitu ada badai kecil di PDIP, langsung saja memuji-muji Ganjar. Tentu saja ini ada banyak udang dibalik batu.

Kembali ke PDIP sebagai partainya wong cilik, seperti halnya saat Joko Widodo ditolak banyak petinggi PDIP, tentu Megawati kali ini pun akan mempertimbangkan banyak hal dalam memilih kandidat capres 2024. Wong cilik tetap optimis Megawati sebagai politikusnya para politikus, akan tetap membuka peluang bagi setiap kader PDIP yang mumpuni, untuk maju sebagai capres 2024.

Atau beranikah PDIP menduetkan “Puan-Ganjar” pada pilpres 2024 yang akan datang? Mungkin saja bisa demikian, karena politik itu juga diartikan sebagai seni mengelola berbagai kemungkinan. Ya to?

Salam dan Semoga Semuanya Ginanjar Sehat

Bamswongsokarto

Sumber Sumber Sumber Sumber